SBN Indonesia Masih Diburu Investor Asing, Ini Penjelasan Menkeu Suahasil

18 September 2026 11:10

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia terus menunjukkan daya tarik tinggi bagi investor global hingga mampu mendorong masuknya modal asing (capital inflow). Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan perbandingan selisih imbal hasil SBN Dolar AS tenor 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun.

"SBN USD 10 tahun itu yang biru dengan US Treasury 10 tahun itu yang merah, ini adalah perbedaannya. Dia sama-sama US Dollar, perbedaan negara ini adalah perbedaan negara saja. Berapa bedanya? 97 basis poin," ujar Suahasil Nazara dalam tayangan Breaking News Metro TV, Jumat, 18 September 2026.

Selisih sebesar 97 basis poin (bps) tersebut meningkat dari posisi Januari 2026 yang sebesar 76 bps akibat pergerakan relatif pasar di masing-masing negara. Sementara itu, selisih untuk SBN Rupiah tenor 10 tahun tetap dipertahankan pada level 120 bps.

Suahasil menegaskan bahwa selisih imbal hasil Indonesia sebesar 217 bps tergolong relatif aman dan kompetitif dibandingkan negara berkembang lainnya, seperti Filipina yang mencapai 253 bps.

“Kalau kita bandingkan Indonesia dengan negara lain, itu yang sebelah kanan Indonesia relatif oke. Kita ada spread dengan 217 basis poin, itu tetap membuat bisa mengundang pelaku pemodal asing untuk membeli SBN kita. Itu yang tadi di depan saya sampaikan, untuk pasar SBN itu telah ada capital inflow," ungkap Suahasil.
 



Kondisi positif ini juga berdampak langsung pada tingginya permintaan investor di pasar perdana (primary market).

"Dan kita juga bisa lihat di bawah bahwa pasar primary kita tetap menarik. Kalau lelang SUN biasanya rata-rata bid-to-cover ratio-nya 1,88 kali, kalau bid-to-cover ratio lelang SBSN kita 2,53 kali," lanjut Suahasil.

Di samping menjaga instrumen pasar keuangan, APBN tetap memprioritaskan alokasi pembiayaan investasi langsung bagi masyarakat. Realisasi pembiayaan investasi sebesar Rp62,6 triliun per 31 Agustus tersebut disalurkan ke sejumlah lembaga dan program prioritas, antara lain Badan Layanan Umum Kemenkeu (BULK), LPDP, FLPP, LMAN, LKI, hingga Lembaga Penyelenggara Tes Masuk Perguruan Tinggi (PTS).

"APBN tetap melakukan pembiayaan investasi untuk kesejahteraan masyarakat kita, sampai dengan 31 Agustus telah mencapai 62,6 triliun," kata Suahasil.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X