Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam di berbagai wilayah Indonesia kian mengancam keselamatan warga dan mulai memakan korban jiwa. Pekan ini, seorang anak berusia enam tahun di Kalimantan Barat dan seorang bayi berusia satu tahun di Kalimantan Timur mengembuskan napas terakhir akibat gangguan pernapasan parah yang dipicu pekatnya kabut asap karhutla.
Di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, bocah berusia enam tahun bernama Anya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Jalaludin Sukadana akibat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang bayi berusia satu tahun meregang nyawa akibat sesak napas setelah permukiman warga dikepung asap tebal hasil pembakaran hutan.
Jeritan Korban dan Ratusan Rumah Hangus
Duka mendalam dirasakan keluarga korban di Kalimantan Barat yang mendesak pemerintah agar segera mengambil tindakan konkret dan tidak menganggap remeh bencana kabut asap.
Paman dari bocah yang meninggal dunia menyuarakan kekecewaannya atas lambatnya penanganan di lapangan.
"Nunggu korban berapa orang lagi baru kau bilang ini bencana nasional. Asap kabutnya makin parah. Ini ponakanku meninggal hari ini gara-gara infeksi paru-paru. Kabut asap makin parah. Ayolah pemerintah gimana ini cara atasnya minimal ada vitamin lah untuk masyarakatlah. Dan jangan sampai ada korban lagi," kata paman korban, Miftahus, dikutip dari tayangan
Metro This Week, Metro TV, Minggu, 18 Oktober 2026.
Dampak bencana karhutla juga meluas hingga ke Pulau Sumatra. Di Dusun Serdang, Desa Jelutung 2, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, kobar api merambat ke permukiman dan memusnahkan sedikitnya 245 unit rumah warga, serta berdampak pada 137 rumah lainnya dengan total korban mencapai 1.880 jiwa.
Seorang warga Bangka Selatan berharap adanya bantuan darurat dari pemerintah pusat.
"Bapak Presiden kalau bisa turunlah bantuan dengan kami. Yang hilang uangku yang tidak bisa diselamatkan," ucap warga terdampak, Salinah.
Kondisi Palangka Raya dan Metode Suntik Gambut
Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kondisi kabut asap dilaporkan semakin memprihatinkan hingga mengubah warna langit menjadi oranye. Indeks Kualitas Udara (IKU) di Kota Palangka Raya sempat menyentuh angka 205,2 yang masuk dalam kategori sangat berbahaya. Total luas hutan dan lahan yang terbakar di Kota Palangka Raya mencapai 1.444 hektare, dengan ditemukannya 548 titik panas di tingkat kota dan 11.000 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan Tengah.
Sulitnya pemadaman disebabkan oleh bara api di lahan gambut yang tetap menyala di bawah permukaan tanah. Untuk mengatasi kendala ini, para relawan menggunakan metode suntik gambut, yakni mengalirkan air langsung ke dalam lapisan bawah tanah agar bara api padam secara total. Pekatnya asap juga membuat helikopter water bombing tidak dapat beroperasi selama lebih dari sepekan akibat jarak pandang yang sangat terbatas, sehingga penanganan mengandalkan jalur darat.
Arahan Presiden Prabowo
Menanggapi situasi tersebut, data yang dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto mencatat luasan lahan yang masih terbakar di enam provinsi saat ini berada di angka 639,23 hektare. Sebagai langkah antisipasi dan pengawasan jangka panjang, Presiden Prabowo mengarahkan penambahan 70.000 personel
polisi hutan.
"Kondisi sekarang total di enam provinsi yang masih harus dipadamkan berarti masih terbakar ya adalah 639,23 hektare. Apa benar itu?... Tadinya saya mengira masih ratusan ribu masih puluhan ribu, ternyata sudah jauh ya. Karena itu tolong sampaikan ke MenPAN RB ya, kalau memang saya minta 70.000 polisi hutan itu karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita," ujar Presiden Prabowo Subianto.