Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin yang terletak di Kabupaten Batanghari, Jambi. Akibatnya, lahan seluas kurang lebih 30 hektare hangus terbakar dalam dua pekan.
Jurnalis Metro TV, Rifda Muthia, melaporkan langsung dari kawasan perbatasan Desa Tanjung Katung dan Bukit Baling, Muaro Jambi, bahwa pemadaman karhutla di wilayah ini dihadapkan pada tantangan berat. Mulai dari kondisi medan perbukitan yang sulit dijangkau, minimnya ketersediaan sumber air di sekitar lokasi, hingga tiupan angin kencang membuat api terus membesar dan meluas dengan cepat.
Guna mengatasi keterbatasan tersebut, satuan tugas gabungan mengoptimalkan pengerahan armada udara. Sebanyak tiga helikopter water bombing dikerahkan secara intensif dan telah menjatuhkan total 240.000 liter air ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat. Selain itu, penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut disiagakan untuk memicu turunnya hujan buatan di wilayah terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Muaro Jambi, petugas BPBD bersama jajaran TNI dan Polri terus berjibaku menangani puluhan kejadian karhutla yang muncul selama musim kemarau ini.
Petugas BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan, mengungkapkan bahwa sinergi kuat antar-satgas darat dan udara menjadi kunci utama dalam meredam potensi kebakaran yang lebih besar.
"Kita di Kabupaten Muaro Jambi memang termasuk wilayah rawan karhutla yang mana pada saat musim kemarau ini kami sudah berjibaku untuk penanganan. Sampai saat ini sudah ada sekitar 60 kejadian yang telah kami hadapi," ujar Anari Hasiholan dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Selasa 8 September 2026.
Ia menambahkan, strategi pemadaman kini difokuskan pada penanganan cepat dan sigap sejak kemunculan titik api kecil agar tidak membesar. Berkat dukungan
water bombing serta keberhasilan pelaksanaan OMC yang memicu turunnya hujan beberapa waktu lalu, sebagian besar titik api di wilayah Muaro Jambi kini terpantau mulai terkontrol dan berangsur padam.
Meski demikian, tim gabungan tetap bersiaga penuh di lapangan untuk mengantisipasi potensi kemunculan titik api baru seiring kondisi cuaca yang masih dinamis.