9 September 2026 00:23
Ekspektasi terhadap Danantara sangat besar. Tak terbatas mengelola aset dan investasi negara dalam skala besar, perannya juga masuk ke berbagai proyek industri strategis, termasuk hilirisasi mineral. Indonesia pun bergerak dari mineral menjadi bahan industri, komponen, hingga produk akhir dengan nilai dan teknologi yang lebih tinggi guna menembus pasar global.
Demi mewujudkan mimpi itu, Danantara Sumber Daya Indonesia atau PT DSI pun lahir untuk memperbaiki pengawasan ekspor komoditas strategis. Sejak Juni 2026, pemerintah menyebut DSI telah memantau lebih dari 6.000 transaksi dengan nilai devisa ekspor sekitar USD14 miliar. Pemerintah juga menyebut ada potensi selisih sekitar USD 5 miliar dari perbedaan harga, kualitas, dan pembayaran devisa.
Langkah berikutnya adalah Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, yang diharapkan membuat transaksi lebih terbuka, sekaligus membantu Indonesia membentuk harga acuan sendiri. Jika semua instrumen ini berjalan baik, perannya bisa saling melengkapi.
Danantara mendorong investasi, DSI memperbaiki pengawasan ekspor, Bursa membuat transaksi dan harga lebih terbuka. Hasil akhirnya tetap harus diukur dari satu hal: apakah kekayaan mineral Indonesia berhasil diubah menjadi industri, teknologi, lapangan kerja, dan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri?
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengungkap strategi pemerintah mendorong investasi asing atau foreign direct investment (FDI) ke sektor hilirisasi.
Pemerintah telah menyusun roadmap hilirisasi 28 komoditas hingga 2040–2045 dengan potensi investasi mencapai sekitar USD 618 miliar. Fokus kemudian dipersempit menjadi 15 komoditas prioritas untuk memperkuat pelaksanaan hilirisasi.
Hilirisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing ekspor, membuka lapangan kerja, serta mendorong transfer teknologi di Indonesia.