13 October 2026 17:43
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara melakukan pertemuan dengan diaspora dan mahasiswa Indonesia di Beijing, Tiongkok, untuk membahas penguatan kawasan transmigrasi melalui sektor pendidikan, industrialisasi, serta pemanfaatan potensi sumber daya manusia (SDM) lulusan luar negeri.
Dalam dialog tersebut, para mahasiswa jenjang S1 hingga S3 menyampaikan berbagai masukan mengenai pemerataan pembangunan. Mereka menekankan pentingnya penyelarasan program prioritas antar-instansi pemerintah guna mencegah timbulnya ketimpangan regional serta tumpang tindih kebijakan.
Mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Alexander Michael Tjahjadi menekankan perlunya keterpaduan langkah agar pembangunan daerah tidak mengalami ketertinggalan.
"Sebenarnya kan kalau kita lihat banyak mismatch gitu ya di daerah, ada ketertinggalan dari beberapa kawasan yang mungkin kita harus selalu sinergikan dengan berbagai macam instansi yang ada.Salah satu harapan kami agar one objective, one goal supaya prioritas ini bisa dimaksimalkan means-nya dan end-nya. Jadi caranya supaya ada terobosan," ujar Alexander dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Dukungan untuk Program Transmigrasi Patriot
Menteri Transmigrasi menyambut positif masukan para mahasiswa, khususnya dukungan terhadap pelaksanaan program Transmigrasi Patriot. Program ini menerjunkan kalangan akademisi, guru besar, dan mahasiswa untuk mendampingi masyarakat di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Model pendampingan semacam ini juga diterapkan di Tiongkok dalam memajukan area pedesaan terpencil.
Baca Juga :
Menteri Transmigrasi mengapresiasi perhatian para mahasiswa terhadap pengembangan kawasan terpencil di Tanah Air.
"Masukan-masukan dari teman-teman mahasiswa S1, S2, S3 yang ada di Beijing, bahkan mereka juga mendukung program transmigrasi patriot yang ternyata di Tiongkok juga itu dilakukan, bagaimana guru besar, profesor diterjunkan ke desa bersama dengan para mahasiswanya, kemudian membantu masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil," tutur M. Iftitah
Jembatan Investasi dan Pusat Pertumbuhan Baru
Selain sektor pendidikan, diaspora Indonesia di Tiongkok menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi langsung ketika perusahaan asal Tiongkok berinvestasi di kawasan transmigrasi. Kemampuan berbahasa Mandarin serta pemahaman terhadap budaya Tiongkok dinilai menjadi modal penting untuk menjembatani kerja sama investasi.
Melalui sinergi antara investasi industri, pendampingan akademis, dan kemitraan strategis, kawasan transmigrasi diharapkan dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.