3 July 2026 19:55
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Defisit ini menjadi yang pertama setelah Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama enam tahun terakhir atau 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kondisi tersebut terutama dipicu oleh membengkaknya defisit pada sektor minyak dan gas (migas).
Berdasarkan data BPS, capaian tersebut memutus tren surplus yang sebelumnya masih tercatat sebesar 89,1 juta dolar AS pada April 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa defisit neraca perdagangan Mei 2026 terutama berasal dari komoditas migas yang mencatatkan defisit hingga 3,76 miliar dolar AS.
Penyumbang terbesar defisit migas berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas masih membukukan surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS yang ditopang oleh komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta besi dan baja.
Meski mencatat defisit pada Mei, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih membukukan surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS. Surplus tersebut ditopang oleh sektor nonmigas sebesar 16,31 miliar dolar AS, sementara sektor migas masih mengalami defisit 12,28 miliar dolar AS.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai risiko defisit neraca perdagangan masih terbuka pada bulan-bulan berikutnya apabila tidak ada langkah cepat dari pemerintah. Menurutnya, surplus kumulatif Indonesia saat ini jauh lebih tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Saya kira justru risiko defisit dagang ini bisa berlanjut, masih cukup terbuka. Surplus kumulatifnya tinggal sekitar 4 miliar dolar AS, turun tajam dari 15,4 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu," ujarnya dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Jumat 3 Juli 2026.