Mengenal B2SA, Solusi Pola Makan Sehat Tanpa Ketergantungan Nasi

28 July 2026 17:55

Makan kenyang belum tentu bergizi. Itulah realita di balik kebiasaan sebagian besar masyarakat yang menganggap belum makan kalau belum memakan nasi.

Di balik tumpukan karbohidrat berlebih, tersimpan ancaman nyata, seperti diabetes, obesitas, hingga hidden hunger atau kelaparan tak kentara akibat minimnya zat gizi mikro. Piring makan kita butuh revolusi segera, dan jawabannya bukan lagi sekadar mengenyangkan melainkan B2SA atau Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi sekitar 95 kg beras per tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dari rata-rata konsumsi masyarakat dunia yang hanya 54 kg.

Angka 95 kg ini membuktikan bahwa piring makan kita masih didominasi oleh satu jenis karbohidrat saja. Sebagai perbandingan, masyarakat Jepang yang juga berbasis nasi kini hanya mengonsumsi sekitar 50 kg beras per tahun karena piring mereka sudah lebih bervariasi dengan sumber pangan lain.

Ketergantungan ekstrem pada satu jenis karbohidrat saja punya dampak besar secara kesehatan. Konsumsi karbohidrat sederhana berlebih tanpa serat seimbang memicu risiko tinggi diabetes dan obesitas

"Ketika konsumsi nasi terus-menerus tanpa disubstitusi dengan makanan pokok lainnya, ada potensi seseorang itu berisiko lebih tinggi untuk terjadinya penyakit tidak menular atau diabetes. Nah oleh karena kami menyarankan untuk bisa memulai mengurangi jumlah nasi dan untuk kenyangnya dan untuk pemenuhan gizi makanan pokoknya mereka substitusi. Jadi substitusi itu sederhananya seperti misalnya mereka biasanya makan nasi itu satu piring besar, sekarang jadi setengah piring. Lalu untuk tambahan karbohidratnya apa? Mungkin mereka bisa bikin sop yang bahannya kentang. Nah itu dengan demikian mereka sudah meragamkan makanan pokok," kata Ahli Gizi Rita Ramayulis dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa 28 Juli 2026. 

Selain itu jika kita hanya bergantung pada beras, ketahanan pangan kita jadi rentan saat terjadi guncangan cuaca seperti El Nino atau krisis global. Padahal bumi Indonesia punya alternatif yang melimpah.

Baca Juga :

Pemkab Lebak Ajak Warga Kurangi Ketergantungan Beras

Solusinya bukan berhenti makan nasi, tapi menerapkan konsep B2SA. Namun perlu diingat, pemerintah tidak sedang ingin mengganti nasi di meja makan.

Pesan utamanya adalah diversifikasi pangan, yaitu memperkaya pilihan karbohidrat lokal seperti jagung, sukun, talas, dan sorgum yang tak kalah lezat. Langkah ini sejalan dengan fokus Kemenko Pangan dalam mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menggerakkan ekonomi berbasis potensi pangan lokal di desa-desa.

Rita mencontohkan penyajian nasi putih setengah porsi yang dipadukan dengan umbi-umbian sebagai variasi rasa dan nutrisi. 

"Jadi ada nasi putih setengah porsi, setengah porsinya nanti ubi merah, ubi ungu gitu. Nah itu kalau digabungkan kan enak juga rasanya ya, sama-sama direbus. Nah dengan cara seperti ini makan sangat mungkin masyarakat bisa menerima," ungkapnya. 

Dengan menerapkan "Isi piringku B2SA", kita tidak hanya menjaga kesehatan keluarga tapi juga mendukung jutaan petani pangan lokal di seluruh pelosok desa menuju Indonesia yang berdaulat pangan.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X