Menuju IGIC 2026, Indonesia Suarakan Pentingnya Diplomasi Spiritual untuk Perdamaian Dunia

24 August 2026 22:32

Menjelang perhelatan akbar International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, sejumlah rangkaian kegiatan mulai digelar di berbagai daerah. Di Bandung, Jawa Barat, rangkaian acara bertajuk "Bridging to IGIC 2026" sukses diselenggarakan dengan fokus pada penguatan peran imam masjid dalam perdamaian global.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Seminar Nasional di Kampus UIN Sunan Gunung Djati, yang kemudian dilanjutkan dengan Istighosah dan Tabligh Akbar di Masjid Pusdai, Bandung. Acara ini dihadiri langsung oleh Menteri Agama RI sekaligus Ketua Umum Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), Nasaruddin Umar, serta ribuan jemaah.

Diplomasi Spiritual sebagai Solusi Konflik


Dalam arahannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya memperkenalkan konsep "Diplomasi Spiritual" atau diplomasi hati nurani. Menurutnya, jalur diplomasi formal yang ada saat ini sering kali belum cukup efektif untuk menghentikan konflik dan peperangan antar-bangsa.

"Kenapa Indonesia mengundang mereka? Karena ini adalah inisiasi yang pertama kali dilakukan. Tujuannya adalah memperkenalkan diplomasi spiritual. Hati nurani itu sama di mana pun, tidak ada yang suka peperangan. Jika kita menggunakan bahasa batin, insya Allah dunia bisa pulih dan tidak perlu ada konflik," kata Menag, Nasaruddin Umar, dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Senin, 24 Agustus 2026.

Ia menambahkan bahwa konferensi internasional ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memposisikan imam masjid sebagai jembatan perdamaian dan pusat pembinaan umat.


Indonesia Jadi Episentrum Peradaban Islam


Ketua Steering Committee IGIC 2026, Irjen Pol. M. Sabilul Alif, mengungkapkan bahwa konferensi yang akan digelar pada 25-28 September 2026 mendatang ini berencana mengundang imam besar dari 50 negara, termasuk tokoh-tokoh Islam dan mufti dunia.

"Kita ingin menjadikan Indonesia sebagai episentrum peradaban Islam dunia. Konferensi ini akan menghasilkan deklarasi yang mencakup tiga poin utama: Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace," jelas Sabilul Alif.

Salah satu tamu kehormatan yang direncanakan hadir adalah Imam Besar Masjidil Haram Makkah, Syekh Abdul Rahman bin Abdul Aziz as-Sudais. Kehadirannya diharapkan memperkuat pesan Islam yang Rahmatan Lil Alamin di tingkat global.

Peran Imam Masjid di Luar Ibadah Ritual


Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal IPIM, Muhammad Taufiqurrahman, menyatakan bahwa ke depannya imam masjid tidak boleh hanya berbicara mengenai urusan ibadah ritual (mahdhah), tetapi juga harus mampu memberikan solusi atas persoalan bangsa dan negara.

"Kami berharap IGIC ini membentuk jaringan kuat imam masjid seluruh dunia untuk menyuarakan perdamaian global, menangkal ujaran kebencian berbasis agama (religious hate speech), dan memberikan solusi nyata bagi kemanusiaan," pungkasnya.

International Grand Imam Conference 2026 diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi diplomasi Indonesia di mata dunia, dengan memanfaatkan kekuatan spiritual dan kerukunan sebagai modal utama perdamaian.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X