NEWSTICKER

Hakim Bingung Tak Ada Saksi saat Putri Dilecehkan

10 January 2023 17:06

Hakim ketua mengaku bingung dengan dugaan pelecehan yang dialami Putri Candrawathi oleh Brigadir Yosua. Pasalnya, tidak ada saksi yang menguatkan dugaan tersebut, namun Ferdy Sambo tetap percaya keterangan istrinya tersebut.

"Sesuai fakta persidangan yang ada hingga saat ini, yang disampaikan mengenai pelecehan seksual itu dari para saksi maupun terdakwa tidak ada yang mengetahui peristiwa itu," kata Hakim Ketua Wahyu Imam Santoso, Selasa (10/1/2023). 

"Dan peristwa itu hanya diterangkan oleh istri saudara, Putri Candrawathi dan saudara (Ferdy Sambo). Sehingga sampai hari ini kami bingung dan di beberapa keterangan saksi mengatakan saudara (Sambo) menyebut bahwa itu hanyalah ilusi peristiwa di Magelang," imbuhnya.

Sidang kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J kembali bergulir di PN Jakarta Selatan, Selasa (10/1/2023). Sidang beragendakan pemeriksaan Ferdy Sambo sebagai terdakwa.

Dilansir dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, sidang Ferdy Sambo digelar di Ruang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, SH, pukul 09.30 WIB.

Sebelumnya, hakim rampung memeriksa tiga terdakwa lainnya, yakni Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E), Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf. Hakim telah menjadwalkan pembacaan tuntutan bagi ketiga terdakwa tersebut. Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi juga akan menghadapi tuntutan usai pemeriksaannya rampung.

Diketahui, lima terdakwa tersebut melakukan pembunuhan berencana terhadap brigadir J. Akibatnya, mereka dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP.

Sementara itu, Ferdy Sambo juga didakwa menghalangi penyidikan dalam perkara pembunuhan berencana tersebut, dan dijerat pasal berlapis.

Ferdy Sambo didakwa melanggar Pasal 49 jo Pasal 33 subsider Pasal 48 Jo Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Atau diancam dengan pidana dalam Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 ayat (1) ke-2 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.