14 June 2026 23:03
Pimpinan baru Badan Gizi Nasional (BGN) langsung tancap gas membenahi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah taktis pertama yang diambil adalah menggandeng koki selebriti Chef Arnold Purnomo guna merombak manajemen dapur, kualitas sumber daya manusia, hingga penyusunan bank menu agar makanan yang disajikan memiliki standar dan kualitas yang tinggi.
Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa peta jalan perbaikan telah disiapkan dengan fokus pada ketepatan sasaran. Ke depannya, program MBG akan dievaluasi agar tidak lagi diarahkan ke sekolah-sekolah dari kalangan mampu, melainkan difokuskan murni untuk anak-anak yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi.
Selain itu, guna meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), BGN siap mengoptimalkan pendanaan alternatif yang bersumber dari CSR BUMN, hibah luar negeri, hingga partisipasi pihak swasta di kawasan terpencil.
Reformasi besar-besaran ini tidak hanya menyasar pada perbaikan kualitas gizi, tetapi juga pembersihan tata kelola dari indikasi penyelewengan anggaran. Kepala Kantor Staf Presiden, Dudung Abdurachman, membeberkan adanya temuan potensi penggelembungan jumlah dapur dari kebutuhan ideal 22.000 menjadi lebih dari 27.000 titik. Praktik manipulasi titik operasional dapur ini dinilai sangat fatal karena berpotensi memicu pemborosan dan merugikan keuangan negara hingga mencapai satu triliun rupiah per bulannya.
Di luar polemik tersebut, program MBG terus berjalan dan ditargetkan mampu menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026, meliputi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Hingga kini, BGN mencatat sekitar 62 juta orang telah terlayani oleh puluhan ribu dapur yang beroperasi.
Sebagai bentuk ketegasan menjaga standar mutu, BGN juga telah menghentikan sementara operasional ribuan dapur yang terbukti belum memiliki kelayakan infrastruktur dan sanitasi untuk menjalani proses evaluasi dan perbaikan.