25 July 2026 18:47
Sebuah buku tentang gagasan, nilai, dan perjalanan panjang pengabdian Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh resmi diluncurkan di Medan, Sumatra Utara pada 24 Juli 2026. Buku berjudul 'Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme' ini tidak hanya hadir sebagai biografi melainkan sebuah dokumentasi pemikiran yang diharapkan menjadi warisan intelektual bagi generasi penerus bangsa.
Di tengah dinamika politik nasional, sebuah karya tulis hadir dengan satu tujuan, yakni mendokumentasikan gagasan yang dinilai telah dibangun dengan pengabdian panjang selama lebih dari enam dekade. Ketua DPW Partai NasDem Sumatra Utara, Iskandar ST, meluncurkan buku berjudul 'Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme' sebagai hadiah ulang tahun ke-75 kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.
Dalam pidatonya, Iskandar menegaskan buku ini lahir dari pengalaman pribadinya selama 15 tahun menjadi kader Partai NasDem. Menurutnya, ia tak hanya melihat dan mendengar, tapi juga mengalami secara langsung konsistensi pikiran, ucapan, dan tindakan Surya Paloh.
"Jadi saya sebagai kader Partai Nasdem, saya telah mengikuti Bapak Surya Paloh lebih dari 15 tahun. Dalam 15 tahun itu saya mendapat pengalaman empiris bersama beliau, yaitu mendengar, melihat, mencermati, dan merasakan secara langsung pikiran, ucapan, dan perbuatan beliau. Dari situ saya melihat banyak sekali ajaran-ajaran atau pemahaman yang menurut saya sangat penting untuk diwariskan bagi generasi yang akan datang, khususnya bagi kader Partai Nasdem. Maka itu saya mencoba merangkumkannya dalam satu buku,” ujar Iskandar dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu, 25 Juli 2026.
Iskandar menyebut buku ini bukan sekedar hadiah ulang tahun, melainkan hadiah untuk seluruh rakyat Indonesia. Menurutnya, perjalanan hidup Surya Paloh selama 75 tahun dengan lebih dari 60 tahun berkiprah di dunia organisasi, pers, usaha, dan politik, menyimpan banyak pelajaran tentang pengabdian kepada bangsa.
Meski telah meraih berbagai pencapaian dalam kehidupan dan bersahabat dengan tujuh dari delapan Presiden Indonesia, Surya Paloh masih menyimpan kegelisahan besar terhadap masa depan negeri ini. Dari kegelisahan itulah Iskandar merumuskan apa yang disebutnya sebagai 'Suryapalohisme'.
Bukan sebuah ideologi baru apalagi pengganti ideologi negara, melainkan kerangka nilai yang bertumpu pada empat pilar, yakni restorasi nilai, nasionalisme inklusif, integritas moral, dan idealisme adaptif. Keempat pilar tersebut menjadi dasar pemikiran Surya Paloh bagi gerakan perubahan yang selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Di hadapan para undangan, Surya Paloh mengaku terharu menerima buku yang dipersembahkan untuknya. Dengan nada emosional, ia menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam.
Surya Paloh juga mengenang masa kecilnya di Sumatra Utara. Meski lahir di Kutarajab Banda Aceh, ia mengatakan Medan adalah tempat membentuk karakter dan jati dirinya. Bahkan sejak usia 14 tahun, ia memilih hidup mandiri dan menolak bergantung pada orang tua. Di situlah Surya kecil mulai mengenal dunia usaha, berpartisipasi dalam organisasi sosial hingga politik. Surya Paloh mengaku hingga saat ini ia tetap memiliki satu tujuan yang tak pernah berubah, yakni bermanfaat bagi bangsa.
"Ya, gagasan yang paling pertama adalah bagaimana segera kita membangun, bangun kesadaran masyarakat untuk bisa menyadari bahwasanya model dan sistem demokrasi yang begini bebas di negeri ini, apabila kita tidak menyeimbangkan hak dan kewajiban kita, demokrasi ini tidak akan memberikan asas manfaat yang positif,” ujar Surya Paloh.
Bagi Surya Paloh, kekayaan sumber daya alam tak akan pernah menjadi jaminan kemajuan jika tidak diikuti dengan disiplin, etos kerja, sportivitas, dan karakter yang kuat. Menurutnya, perubahan mentalitas menjadi prasyarat utama agar Indonesia mampu menjadi negara yang adil dan makmur.
Sekjen DPP Partai NasDem, Hermawi Taslim, menilai buku ini berhasil menangkap karakter khas Surya Paloh, yaitu setia kawan dan komitmen pada janji. Sementara itu, Wali Kota Medan Rico Waas mengapresiasi kedalaman isi buku ini yang berbeda dari biografi sebelumnya. Menurutnya, buku ini mampu membedah bagaimana pemikiran Surya Paloh tetap eksis dan relevan dari zaman ke zaman, melintasi berbagai kepemimpinan presiden.
Melalui buku 'Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme', Iskandar sebagai penulis berharap gagasan yang selama ini hidup dalam pikiran dan tindakan Surya Paloh tak berhenti pada sosoknya semata, melainkan menjadi warisan intelektual yang terus didiskusikan, diuji, dan dikembangkan oleh akademisi, kader partai, serta generasi muda Indonesia.