4 November 2026 17:32
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Barat telah menghanguskan area seluas lebih dari 3.317,56 hektare yang tersebar di tujuh kabupaten per Agustus 2026.
Dikutip dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu, 4 November 2026, Kabupaten Fakfak menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas kebakaran melampaui 2.300 hektare, khususnya di kawasan Bomberay. Secara keseluruhan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luasan karhutla di berbagai provinsi di Pulau Papua telah mencapai ribuan hektare selama periode pemantauan pada 2026.
Kebakaran lahan secara masif juga melanda Kabupaten Kaimana. Titik api terpantau membakar kawasan Distrik Arguni Atas sejak September, disusul kebakaran di sekitar permukiman warga suku Mairasi yang mencakup Kampung Lobo, Jarati, Faranyau, dan Werua. Pemerintah Kabupaten Kaimana pun telah mendistribusikan bantuan tangki air, selang, serta mesin pompa agar warga setempat dapat melakukan pemadaman api secara mandiri.
Sementara itu, krisis karhutla juga melanda wilayah Kalimantan Tengah. Kabut asap tebal kian pekat menyelimuti Kota Palangkaraya hingga mendorong indeks kualitas udara melonjak ekstrem ke angka 928, kategori yang sangat berbahaya bagi kesehatan.
Luas kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya kini telah mencapai 1.467 hektare dengan pantauan 10 titik panas, sementara di seluruh Kalimantan Tengah terdeteksi sebanyak 800 titik panas. Masyarakat setempat berharap hujan deras segera mengguyur guna memadamkan kebakaran gambut yang sulit ditangani.
"Hari ini agak pekat. Harapannya hujan, ya hujan berapa hari terus-menerus itu nah, supaya padam api yang di dalam tanah itu mati," ujar salah seorang warga Palangkaraya, Tuti.