Komunitas dokter spesialis yang tergabung dalam Pain Management Network (PMN) mengambil inisiatif dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Tanah Air. Sebagai upaya mencapai target Indonesia Bebas Nyeri pada 2030, PMN menyelenggarakan pelatihan bagi 50 dokter dari berbagai wilayah Indonesia di Jakarta.
Pelatihan ini dirancang khusus agar para praktisi medis mampu mengidentifikasi serta menangani berbagai kasus nyeri secara tepat dan holistik. Fokus penanganan mencakup spektrum nyeri yang luas, mulai dari nyeri sendi, nyeri otot, hingga nyeri saraf yang dirasakan dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Pendiri dari Program Director PMN, dr. Theresia Novy, mengungkapkan bahwa mayoritas kasus medis yang dialami pasien hampir selalu disertai dengan unsur nyeri. Menurutnya, rasa nyeri sering kali dipicu oleh aktivitas sehari-hari atau cedera ringan, seperti berdiri terlalu lama, beban kerja yang tinggi, hingga olahraga berlebihan.
"Kami ingin ada perhatian dari pemerintah, terutama dalam kemudahan akses pendidikan bagi dokter spesialis dan pemberdayaan dokter yang memiliki kompetensi di bidang pain management," ujar dr. Theresia.
Theresia juga menekankan bahwa meskipun PMN bukan institusi pendidikan resmi, organisasi ini berkomitmen memberikan kontribusi besar melalui program postgraduate education untuk mengisi celah kompetensi yang ada.
Dalam agenda tersebut, apresiasi tinggi juga diberikan kepada Prof. Dr. Darto Satoto, guru besar senior
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), yang menerima penghargaan Lifetime Award atas dedikasinya di bidang anestesi.
Prof. Darto menyatakan optimismenya bahwa target Indonesia Bebas Nyeri 2030 dapat tercapai, karena PMN juga akan berfokus memberikan pelatihan kepada para dokter umum yang menjadi garda terdepan menangani banyak pasien yang mengalami nyeri. Dengan modalitas dokter umum Indonesia yang terus mendalami penanganan nyeri secara tepat, akan mempercepat target Indonesia Bebas Nyeri.
"Dokter umum ini ujung tanduk. Mereka bukan sekadar diberikan kompetensi, tapi pengetahuan tentang bagaimana mengobati dan ke mana pasien harus dirujuk secara tepat," jelas Prof. Darto.
Darto menambahkan bahwa sinergi berbagai disiplin ilmu, termasuk penyakit dalam dan kesehatan olahraga, akan mempercepat pencapaian target nasional tersebut.
Selain penguatan kompetensi dasar, pelatihan ini juga membahas metode mutakhir seperti terapi stem cell untuk menangani nyeri akut. Metode ini diposisikan sebagai opsi bagi pasien yang sudah diwajibkan menjalani operasi namun terkendala faktor tertentu sehingga prosedur bedah tidak dapat dilakukan.
Meskipun hingga saat ini, penelitian terkait efektivitas metode stem cell terus dikembangkan untuk menjadi solusi medis yang aman dan akurat di masa depan.
Dengan peningkatan modalitas pengetahuan para dokter di seluruh Indonesia, PMN berharap penanganan nyeri tidak lagi hanya berfokus pada gejala, melainkan pada akar masalah secara menyeluruh demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.