Teknologi kuantum kerap kali dianggap sebagai teknologi futuristik yang jauh dari jangkauan. Namun faktanya, prinsip-prinsip kuantum telah diimplementasikan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis Metro TV, Vera Bahasuan, berkesempatan mengunjungi langsung fasilitas National Institute of Standards and Technology (NIST) yang berlokasi di Boulder, Colorado, Amerika Serikat, untuk melihat dari dekat inovasi tersebut. Di pusat riset ini, para peneliti dan ilmuwan terus mengembangkan berbagai teknologi kuantum yang akan menjadi pilar penting bagi masa depan sains dan industri global.
Teknologi kuantum pada dasarnya memanfaatkan sifat unik materi pada tingkat atom dan partikel, seperti elektron, atom, dan foton. Salah satu cabang utamanya adalah komputasi kuantum yang menggunakan qubit sebagai unit informasi. Berbeda dengan komputer konvensional yang beroperasi dengan bit bernilai 0 atau 1, qubit memanfaatkan fenomena kuantum seperti superposisi untuk memproses informasi secara jauh lebih kompleks.
Selain komputasi, riset yang ditinjau langsung di NIST juga meluas pada
quantum sensing, komunikasi kuantum, hingga jam atom (
atomic clocks). NIST berfokus mengembangkan teknologi pengukuran berbasis kuantum dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, yang wujud nyatanya dapat ditemukan pada sistem navigasi GPS dan jaringan komunikasi.
"Ketika memikirkan jam atom atau sistem GNSS untuk navigasi, Anda mungkin membayangkan instrumen komersial besar yang memenuhi seluruh ruangan. Kami berupaya mengembangkan teknologi yang membuat jam tersebut menjadi kecil dan portabel sehingga bisa dibawa ke mana-mana, dioperasikan dengan baterai, serta menggunakan daya yang sangat rendah," jelas Ahli Fisika NIST, William McGehee, dikutip dari
Metro Hari Ini, Metro TV, Minggu 11 Oktober 2026.
Ia menambahkan, berkat inovasi tersebut, keseluruhan instrumen sensor kuantum kini dapat diciptakan hanya sebesar sepotong sushi. Perangkat mungil namun sangat presisi ini kini telah diproduksi oleh berbagai perusahaan di seluruh dunia untuk beragam aplikasi.
Bagi Amerika Serikat, pengembangan teknologi ini merupakan langkah strategis untuk memberikan dampak ekonomi yang masif sekaligus memperkuat daya saing industri di kancah global.
Sementara itu, inovasi yang lahir dari fasilitas seperti NIST menjadi pengingat penting bagi Indonesia. Penguasaan teknologi masa depan mutlak harus dipersiapkan sejak dini melalui ekosistem pendidikan, riset, serta kolaborasi sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Indonesia dituntut untuk tidak hanya puas menjadi negara pengguna, tetapi harus mulai membangun kapasitas untuk menciptakan inovasi teknologinya sendiri.