18 October 2026 09:20
Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengepung sejumlah wilayah di Indonesia, memaksa warga beraktivitas di tengah ancaman polusi udara tingkat tinggi. Kondisi paling parah terpantau di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.
Di Palangka Raya, karhutla yang mayoritas terjadi di lahan gambut telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Akibatnya, kualitas udara mencapai level yang sangat membahayakan. Pada Minggu, 18 Oktober 2026 pagi, indeks pencemaran udara menyentuh angka 1.160 jauh di atas batas aman 300, dan lima hingga 10 kali lebih buruk dibandingkan polusi udara di Jakarta.
Meski sempat diguyur hujan tiga hari lalu, kepekatan asap belum sepenuhnya hilang. Bahkan pada puncaknya, indeks kualitas udara di Palangka Raya sempat menembus angka di atas 2.000.
Paparan udara beracun ini berdampak fatal bagi kesehatan warga. Dinas Kesehatan setempat mencatat lebih dari 11.000 warga di Palangka Raya telah terinfeksi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi ini diperparah oleh struktur rumah warga, terutama yang terbuat dari kayu, sehingga asap dengan mudah masuk ke dalam ruangan dan mengancam kelompok rentan seperti bayi dan lansia.