30 September 2026 10:05
EL NINO sedang mengirimkan peringatan keras. Pemerintah tidak boleh sekadar mendengarnya, apalagi menunggu kekeringan menjelma menjadi krisis pangan. Mitigasi mesti dilakukan sekarang, secara masif, terukur, dan terkoordinasi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan Juli-Agustus-September mencapai +2,63. Itu menandakan El Nino berintensitas sangat kuat. Dampaknya nyata, yakni musim hujan 2026/2027 di 529 zona musim atau 61,08% wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat daripada kondisi biasanya.
Ancaman itu tidak boleh dianggap enteng. Kekeringan sudah masuk ke sawah dan ladang. Data Kementerian Pertanian per 24 Juli menunjukkan 44.694 hektare tanaman padi terdampak kekeringan dan 12.304 hektare di antaranya telah mengalami puso atau gagal panen.
Jagung juga mulai terpukul. Di Jawa Timur saja, hingga 10 September, 92,52 hektare tanaman jagung dilaporkan terdampak kekeringan dan 24,6 hektare di antaranya puso. Kekeringan juga mengancam pertanaman jagung di Sulawesi Utara, NTB, Jawa Tengah, hingga Kalimantan.
Angka-angka itu mungkin belum cukup besar untuk mengguncang ketersediaan pangan nasional. Namun, justru di situlah mitigasi harus bekerja. Jangan menunggu puluhan ribu hektare berikutnya mengering baru kita sibuk memadamkan krisis.