Jakarta: Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mendominasi sebagian besar dunia digital. Mulai dari penyajian informasi hingga penggunaannya sebagai alat bantu penulisan di berbagai bidang. Akibatnya, tulisan dan konten hasil AI semakin banyak beredar di berbagai platform. Seiring semakin canggihnya teknologi ini, membedakan tulisan buatan manusia dan AI pun menjadi semakin sulit.
Terdapat berbagai pilihan AI detector yang dapat menganalisis kemungkinan apakah suatu konten ditulis oleh manusia atau AI berdasarkan sejumlah indikator tertentu. Namun, karena gaya penulisan setiap orang berbeda-beda, AI detector masih berpotensi mengategorikan tulisan asli sebagai hasil AI. Oleh karena itu, hasil deteksi tetap perlu disertai analisis dan penilaian secara manual.
Rekomendasi Mesin AI Detector Tercanggih
Berikut deretan rekomendasi
AI detector yang dapat digunakan untuk membantu mendeteksi konten hasil kecerdasan buatan. Daftar ini dikutip dan telah diuji oleh
JustDone.
1. JustDone – Rata-rata Akurasi 94,1%
JustDone mendukung analisis
konten AI dalam berbagai bahasa. Platform ini unggul untuk menganalisis penulisan kreatif maupun akademis dengan analisis berbasis multibahasa hingga tingkat kalimat. JustDone juga dapat mendeteksi konten pada dokumen maupun situs web.
Selain mendeteksi konten AI, JustDone dilengkapi fitur pemeriksa tata bahasa, plagiarisme, paraphraser, hingga humanizer dalam satu platform. Namun, salah satu kekurangannya adalah kecenderungan memberikan hasil deteksi AI yang lebih tinggi pada teks akademik dengan bahasa yang formal.
2. GPTZero – Rata-rata Akurasi 87,3%
GPTZero merupakan
AI detector yang cocok untuk penggunaan sederhana. Selain menyediakan versi gratis, GPTZero mampu menandai kalimat-kalimat yang menurut analisisnya berpotensi merupakan hasil AI.
Penggunaannya pun tergolong mudah. Namun, kemampuan analisis pada teks pendek masih perlu ditingkatkan. Selain itu, hasil deteksinya terkadang berubah seiring pembaruan sistem sehingga lebih cocok digunakan sebagai alat bantu awal.
3. Grammarly – Rata-rata Akurasi 85,6%
Fitur
deteksi AI pada Grammarly merupakan pelengkap dari layanan pemeriksa tata bahasanya. Grammarly cukup optimal untuk mendeteksi teks sederhana atau ringan karena juga dilengkapi berbagai alat bantu penulisan lainnya.
Meski begitu, tingkat akurasinya masih memiliki potensi kesalahan sehingga hasilnya tetap perlu diverifikasi kembali.
4. Turnitin – Rata-rata Akurasi 92,8%
Turnitin menjadi platform andalan di lingkungan akademik. Platform ini mampu mendeteksi konten AI pada tulisan akademis dengan tingkat false negative yang relatif rendah.
Selain itu, Turnitin telah terintegrasi dengan berbagai
platform Learning Management System (LMS) sehingga banyak digunakan oleh universitas maupun sekolah. Namun, akses Turnitin masih cukup terbatas bagi pengguna individu karena lebih difokuskan untuk institusi pendidikan.
5. Originality.AI – Rata-rata Akurasi 94,2%
Originality.AI memiliki keunggulan dalam mendeteksi konten AI, khususnya untuk kebutuhan
Search Engine Optimization (SEO). Platform ini juga menawarkan analisis massal, akses
Application Programming Interface (API), serta fitur pemeriksaan plagiarisme.
Namun, Originality.AI terkadang masih mengategorikan tulisan teknis buatan manusia sebagai hasil AI. Selain itu, hasil deteksinya juga masih memiliki potensi ketidakakuratan pada beberapa jenis konten.
Nah, itulah sejumlah
AI detector yang dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi konten hasil kecerdasan buatan. Meski memiliki tingkat akurasi yang tinggi, setiap platform tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, hasil deteksi AI sebaiknya dijadikan sebagai referensi dan tetap dikombinasikan dengan penilaian manusia agar memperoleh kesimpulan yang lebih akurat.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Odetta Aisha Amrullah)