Kasus tragis yang menimpa seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu gelombang keprihatinan. Siswa berinisial YBS tersebut ditemukan meninggal dunia, diduga kuat akibat bunuh diri setelah merasa tertekan karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Tragedi ini menjadi 'tamparan' keras bagi dunia pendidikan dan perlindungan anak. Kejadian ini dinilai menjadi 'alarm psikologis' bahwa kondisi emosional anak-anak di tengah himpitan kemiskinan sangatlah rapuh.
"Di fase-fase akhir hidupnya, barangkali anak merasa menanggung beban sendiri. Dia tidak menemukan saluran yang aman atau orang dewasa yang mampu hadir mendengarkan apa yang dirasakannya," ungkap Dosen Prodi Psikologi FKM Undana Kupang, Abdi Keraf.
Respons Istana dan Jajaran Menteri
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto menaruh atensi besar terhadap kasus ini. Pemerintah segera melakukan koordinasi lintas kementerian, termasuk Kemendagri dan Kemensos, untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Prasetyo Hadi menyebut berbagai upaya akan didorong agar partisipasi pemerintah dapat menyentuh seluruh lapisan. Pemerintah akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait pendataan, laporan, termasuk kepedulian sosial.
"Ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi. Bapak Presiden meminta kami berkoordinasi agar ke depan hal semacam ini dapat kita antisipasi melalui evaluasi menyeluruh terkait pendataan, laporan, dan kepedulian sosial di tingkat paling bawah seperti kepala desa," ujar Prasetyo Hadi.
Menurut Mensesneg, seluruh bagian dari pemerintah termasuk kepala desa atau kepala dusun harus terus melakukan monitor untuk memastikan seluruh warga miskin dapat menerima bantuan. Mensesneg menyebut selain faktor keluarga dan lingkungan, faktor pendidikan juga sangat penting apalagi terkait dengan kesehatan mental para siswa.
Senada dengan itu, Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), meminta seluruh jajaran pemerintah untuk lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat kecil agar kejadian memilukan ini tidak kembali terjadi.
"Jangan sampai beban ekonomi tidak tersampaikan kepada pejabat atau tokoh masyarakat. Masalah alat tulis adalah hal dasar yang harus segera ditangani jika ada warga yang melapor tidak mampu," tegasnya.
Muhaimin Iskandar juga meminta masyarakat untuk terbuka dan menyampaikan kebutuhannya kepada pihak terkait.
Kemiskinan Ekstrem di Balik Tragedi Siswa Bunuh Diri
Korban ditinggalkan sang ayah sejak dalam kandungan. Sang ibu pun harus bekerja keras sebagai petani dan buruh serabutan untuk menafkahi lima anak, termasuk korban.
Hanya saja untuk membantu finansial, korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun. Mereka pun bergantung pada hasil kebun untuk makan dengan menu paling sering adalah pisang dan ubi.
Korban yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara sehari-hari membantu neneknya berjualan sayur, ubi, dan kayu bakar. Namun itu tidak cukup. Maka pena dan buku menjadi barang mewah bagi korban, meski harganya kurang dari Rp10.000.
Sebelumnya korban sempat menginap di rumah bersama ibu dan esok paginya korban dititipkan ke tukang ojek dengan tujuan pondok neneknya. Ibu korban sempat memberikan nasihat terakhir agar korban rajin sekolah.
Namun, takdir berkata lain. Korban meninggalkan pesan perpisahan yang ditulis dalam bahasa daerah Bajawa yang ditujukan untuk ibunya.
Kondisi keluarga korban yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dinilai bisa berdampak pada minimnya pendampingan emosional dan terbatasnya akses pendidikan. Ironisnya, keluarga korban juga luput dari bantuan pemerintah.