Waka MPR Sosialisasikan 4 Pilar ke Generasi Muda Lewat Film Maira

6 June 2026 18:03

Di tengah tantangan krisis iklim dan perubahan pola komunikasi, film dinilai menjadi media edukasi yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan kebangsaan serta kepedulian lingkungan kepada generasi muda. Hal ini mengemuka dalam audiensi tim film Maira: Whisper from Papua bersama Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, serta sejumlah tokoh nasional di Jakarta baru-baru ini.

Pertemuan membahas pemanfaatan film sebagai sarana edukasi publik untuk menanamkan nilai kebangsaan dan kepedulian lingkungan kepada generasi muda. Film Maira sendiri telah digunakan sebagai sarana sosialisasi empat pilar MPR RI melalui program nonton bareng yang menjangkau pelajar dan generasi muda di berbagai daerah.

Dalam pertemuan tersebut, Lestari Moerdiyat menekankan bahwa pendekatan melalui film jauh lebih mudah diterima oleh generasi muda karena mampu menyampaikan pesan-pesan yang substantif melalui visual dan narasi yang menarik. 

“Banyak sekali pesan-pesan yang terkandung di dalam film tersebut yang sebetulnya adalah inti pesan yang ada ketika kita harus melakukan sosialisasi empat pilar,” ujar Lestari Moerdijat yang dikutip Selamat Pagi Indonesia pada Sabtu 6 Juni 2026. 

Pesan tersebut mencakup nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika yang dibalut dalam cerita yang relevan dengan kehidupan saat ini.
 

Baca juga: Rerie: Butuh Pola Pendampingan Tepat dan Keteladanan untuk Karakter Anak Bangsa

Sutradara film Maira, Anggi Frisca, menjelaskan bahwa karya ini mengangkat hubungan mendalam antara manusia dan alam melalui perspektif masyarakat adat Papua. Film ini mengajak publik untuk belajar dari cara masyarakat adat memperlakukan hutan sebagai tempat tinggal yang harus dijaga.

“Mari kita melihat hutan sebagai kekayaan yang perlu kita jaga. Karena kalau kita jaga hutan, hutan jaga kita,” ungkap Anggi. 

Pesan penting yang ingin disampaikan adalah bagaimana Papua menjadi representasi bagi seluruh masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.

Film yang merupakan kelanjutan dari film Tegar ini diproduksi selama lebih dari dua tahun dengan melibatkan masyarakat lokal secara langsung. Produser film, Candra Sembiring, berharap Maira dapat menjadi pemantik diskusi mengenai krisis iklim di ruang-ruang publik, mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah.

Menurut Candra, generasi masa depan perlu memahami bahwa masalah lingkungan bukan sekadar urusan sampah plastik, melainkan hubungan yang lebih luas antara manusia dan bumi yang sedang 'sakit'. Melalui visualisasi yang kuat, isu krisis iklim yang kompleks diharapkan menjadi lebih mudah dipahami oleh anak muda.

Melalui film Maira, diharapkan pesan tentang kedaulatan bangsa dan penjagaan lingkungan dapat meresap lebih dalam ke sanubari generasi penerus.

(Anggie Meidyana)