Pemda Manggarai Tetapkan Status Tanggap Darurat hingga 31 Agustus

20 August 2026 18:24

Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah pasca-gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu. Hingga saat ini, pemerintah daerah masih menetapkan status tanggap darurat yang akan berlangsung hingga 31 Agustus mendatang.

Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah, mengungkapkan data terbaru mengenai jumlah korban di wilayah hukumnya. Berdasarkan pendataan terkini, tercatat puluhan warga meregang nyawa akibat bencana tersebut.

"Secara jumlah korban, saat ini tercatat di Kabupaten Manggarai sebanyak 27 orang meninggal dunia, 32 orang luka berat, dan 104 korban luka ringan," kata Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026. 

Selain korban jiwa, ribuan fasilitas umum dan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan berat. Gempa besar tersebut juga memaksa belasan ribu warga untuk meninggalkan rumah mereka.

Data Pengungsi dan Distribusi Logistik


Terkait penanganan pengungsi, AKBP Levi menjelaskan bahwa pihak Kepolisian bersama BPBD tengah melakukan pemetaan ulang (mapping) untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 13.935 jiwa yang terdata di posko pengungsian resmi.

"Jumlah tersebut belum termasuk pengungsi mandiri yang mendirikan tenda-tenda di depan rumah mereka. Saat ini kami terus mencocokkan data agar masyarakat yang belum tersentuh bantuan, baik dari pemerintah maupun relawan, bisa segera mendapatkan logistik," tambahnya.
   

Waspada 3.000 Lebih Gempa Susulan


Pihak kepolisian juga mengimbau warga untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru kembali ke dalam bangunan. Berdasarkan data BMKG, telah terjadi lebih dari 3.000 gempa susulan sejak gempa utama melanda.

AKBP Levi menekankan pentingnya faktor keamanan struktur bangunan. Ia meminta warga untuk sementara waktu tetap tinggal di tenda pengungsian guna menghindari risiko bangunan runtuh akibat rentetan gempa susulan.

"Kami tetap mengimbau masyarakat untuk tinggal di tenda atau bergabung di tempat pengungsian. Gempa awal bermagnitudo 7,7 tersebut telah mempengaruhi struktur bangunan, baik rumah maupun gedung pemerintah di sekitar Manggarai," tegasnya.

Saat ini, sinergi antara TNI-Polri, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah terus diperkuat untuk mempercepat percepatan penanganan bencana, terutama dalam prioritas distribusi logistik bagi warga di pelosok Kabupaten Manggarai.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X