Cahaya Hati - Kisah Dibalik Lempar Jumroh

6 March 2026 23:46

Ritual melempar jumrah merupakan salah satu rangkaian krusial dalam ibadah haji yang dilakukan oleh jutaan umat Muslim di Tanah Suci. Namun, di balik riuhnya lemparan batu di Mina, terdapat kisah heroik dan penuh keteguhan iman dari keluarga Nabi Ibrahim AS dalam melawan godaan iblis yang terus berusaha memalingkan manusia dari perintah Allah SWT.

Kisah ini bermula saat Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail AS. Ibrahim pun lantas meminta pendapat sang anak mengenai perintah tersebut. Dengan penuh kesabaran dan ketakwaan, Ismail menjawab agar ayahnya segera melaksanakan perintah tersebut tanpa ragu, asalkan hal itu datang dari Allah.

Dalam perjalanan menuju tempat pelaksanaan perintah tersebut, iblis tidak tinggal diam dan berusaha melakukan provokasi dengan mencoba menggoyahkan keyakinan Ibrahim dengan mempertanyakan kasih sayangnya sebagai ayah. Ibrahim merespons dengan mengambil batu dan melemparkannya hingga iblis lari menjauh.
 

Baca juga: Menelan Dahak saat Puasa Batal atau Tidak? Ini Penjelasan Hukumnya

Tak berhenti di situ, iblis kemudian mendatangi istri Ibrahim, Siti Hajar, dan menghasutnya bahwa suaminya telah kehilangan akal karena hendak menyembelih anaknya sendiri. Namun, Siti Hajar dengan tegas menyatakan bahwa jika itu perintah Tuhan, maka ia pun siap dikorbankan. Ia pun melempar iblis dengan batu.

Terakhir, iblis mencoba menggoda Ismail, namun sang anak langsung melempari makhluk terkutuk tersebut sebelum ia sempat berbicara banyak.

Peristiwa pelemparan di tiga titik inilah yang kini diabadikan dalam ritual haji yang disebut melempar tiga jumrah, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Ustadz Das'ad Latif menjelaskan bahwa ritual yang dilakukan selama tiga hari dengan total tujuh batu setiap kali lemparan.

"Kenapa mesti tiga hari dan kenapa mesti tiga titik? Pesan moralnya bahwa melawan setan itu mesti perlu napas panjang," ungkapnya.

Sebagaimana lempar jumrah, ibadah puasa Ramadan tidak cukup satu hari, melainkan memerlukan waktu satu bulan penuh agar umat Muslim punya daya tahan melawan syaiton.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)