Mentan Amran Anggarkan Hampir Rp10 Triliun Guna Tanam Bibit Serentak di 870 Hektare Lahan

18 June 2026 10:51

Kementerian Pertanian (Kementan) resmi memulai langkah besar dalam memperkuat sektor perkebunan nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan pengembangan lahan perkebunan seluas 870.000 hektare di seluruh Indonesia dengan dukungan anggaran mencapai hampir Rp10 triliun.

Proyek ini diklaim sebagai salah satu pengembangan perkebunan terbesar yang pernah dilakukan oleh pemerintah. Langkah awal eksekusi dilakukan dengan mengumpulkan seluruh penyedia bibit perkebunan dari berbagai daerah di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, guna mempercepat implementasi program yang menjadi arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Program pengembangan ini tidak hanya mengejar luas lahan, tetapi juga fokus pada komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Setidaknya ada tujuh komoditas utama yang menjadi prioritas, yaitu kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala, dan lada. 

"Totalnya selama tiga tahun ini 870 hektare, anggarannya Rp9,95 triliun, kurang lebih Rp10 triliun," jelas Amran Sulaiman yang dikutip Headline News pada Kamis, 18 Juni 2026.
 

Baca juga: Mentan Sebut 130 Perusahaan Sawit Belum Naikkan Harga TBS Sawit

Dalam pelaksanaannya, Kementan menerapkan pola pembibitan berbasis keunggulan komparatif daerah, agro-klimat, serta budaya tanam masyarakat setempat. Hal ini bertujuan agar program berjalan efektif dan tidak membebani petani dengan komoditas yang asing bagi mereka.

"Supaya (program) ini enggak sulit didorong. Jangan yang tidak biasa tanam kelapa diberi kelapa. Jangan tidak biasa tanam kakao diberi kakao. Yang sudah budayanya tanam kakao (cokelat), iklimnya mendukung, sudah diarahkan ke sana," ujar Amran.

Selain itu, untuk menjaga efisiensi anggaran, Kementan menerapkan sistem pembibitan lokal. Amran menegaskan bahwa bibit akan diproduksi langsung di lokasi pengembangan untuk menghindari biaya angkut yang besar antar-pulau.

"Cara pembibitannya adalah di tempat situ, supaya tidak diangkut dari Jawa ke Sulawesi Selatan atau sebaliknya. Ahlinya yang kita datangkan ke tempat itu, jadi hemat dan efisien anggaran," pungkasnya.

(Anggie Meidyana)