Racun Asap Karhutla

31 October 2026 22:34

Palangka Raya: Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi secara bersamaan di enam provinsi telah memicu darurat kabut asap sekaligus krisis kesehatan. Sejak Juni hingga Oktober 2026, tercatat lebih dari 1.156.709 hektare lahan hangus terbakar, memaksa masyarakat beraktivitas di bawah kepungan udara beracun.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan per Senin, 26 Oktober 2026, masih terpantau 197 titik api yang tersebar di enam wilayah provinsi tersebut. Tingkat sebaran api juga terbilang masif, di mana lebih dari 10 ribu hektare lahan ludes terbakar hanya dalam kurun waktu 24 jam.

Gempuran kabut asap yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini berdampak fatal bagi kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 21 Oktober 2026 mencatat total akumulasi penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 333.470 kasus. Memprihatinkannya, hampir 23 persen dari total penderita tersebut merupakan balita.

Kondisi terparah salah satunya terjadi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Pada Senin 26 Oktober 2026, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kota tersebut menyentuh angka 4.137. Angka tersebut melampaui 13,79 kali lipat dari ambang batas level berbahaya.

"Kalteng Bebas Kabut Asap’. Itu yang tertulis di situ. Ini ada spanduk ya, dari sejumlah pejabat daerah yang dengan tagline 'Bersama Kita Bisa Mewujudkan Kalteng Bebas Kabut Asap'. Tapi rasanya kata 'bebas kabut asap', kalau kita berada langsung di lapangan, ini rasa-rasanya agak jauh dari kenyataan ya, karena faktanya sampai saat ini kabut asap masih terus melanda Kota Palangka Raya. Dan ini yang saya rasakan: udara bersih atau udara segar itu ternyata menjadi barang mahal, menjadi barang langka di sini. Bahkan di sebelah sana dan di beberapa titik yang ada di Kota Palangka Raya ini sampai harus dibangun rumah oksigen untuk mendapatkan udara bersih tersebut," ujar Jurnalis Metro TV, Iqbal Himawan, dikutip dari tayangan Realitas Metro TV, Sabtu 31 Oktober 2026.

Lebih dari 2,8 juta jiwa di Kalimantan Tengah terdampak asap karhutla. Kabupaten Pulang Pisau menjadi salah satu episentrum, dengan 50 persen titik api berpusat di Desa Tumbang Nusa.

Rantau, seorang warga Desa Tumbang Nusa, menyebut kondisi kabut asap tahun ini sebagai salah satu yang terbesar sejak 2007. Bencana ini turut menghambat aktivitas harian warga.

"Pencarian kita sulit, dan kita mau ke mana-mana tidak bisa," katanya.

Meski lahan atau hutan yang terbakar bukan milik mereka, warga desa setempat harus turun tangan membantu pemadaman agar api tidak semakin meluas ke permukiman. Rantau yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) menyebut warga membagi tugas pemadaman dalam sistem sif.

"Pasti capek, ikut juga kita memadamkan. Tadi pagi kita (bertugas), nanti bergantian lagi," ungkap Rantau.

Asap karhutla telah merenggut hak asasi manusia dan makhluk lainnya. Jutaan manusia dipaksa menghirup udara berpolutan yang beracun gara-gara ulah segelintir manusia tidak bertanggung jawab. Jutaan nyawa terancam kesehatannya demi periuk nasi segelintir makhluk egois.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X