NEWSTICKER

Hakim Dibuat Pusing Mendengar Keterangan Para Saksi di Sidang Lanjutan Kasus Sambo

8 November 2022 23:50

Hakim sidang kasus pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J kerap mencecar saksi karena keterangannya berbeda dengan keterangan saksi pada sidang sebelumnya. Ada kesan saksi tidak sepenuhnya terbuka. Benarkah para saksi terancam?

Inilah momen ketika Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi berpelukan dalam sidang lanjutan kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi yang hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai terdakwa terlihat kompak mengenakan pakaian putih.

Sidang kali ini menghadirkan 10 saksi, di antaranya asisten rumah tangga keluarga Ferdy Sambo, Susi. Susi yang kembali dihadirkan sebagai saksi nampak langsung menghampiri Putri Candrawathi yang duduk di samping pengacara dan langsung memeluknya dengan erat. Putri juga terlihat mendekap erat Susi. Setelah momen saling peluk tersebut, Susi kemudian menghampiri Ferdy Sambo dan mencium tangannya.

Dalam sidang ini, hadir 10 orang saksi, tiga saksi di antaranya merupakan petugas satpam bernama Alfonsius, Marjuki, dan Damianus. Kemudian tiga orang asiten rumah tangga yakni Abdul Somat, Susi dan Diryanto serta empat orang ajudan bernama Adzan Romer, Prayogi Iktara Wakaton, Farhan Sabilillah, dan Daden Miftahul Haq. Sebenarnya ada saksi lainnya yang dipanggil yakni, dua orang ART dan kakak kandung Ferdy Sambo, Leonardo Sambo. Namun tidak hadir.

Saksi pertama yang dimintai keterangan adalah ajudan Sambo, Daden Miftahul Haq. Daden ditanya seputar kegiatan yang dirinya lakukan sejak 1-7 Juli 2022 sebelum kejadian pembunuhan Brigadir Yosua. Hakim juga mencecar saksi Daden Miftahul Haq terkait kapan pertama kali mengetahui Yosua meninggal dunia. Hakim menyebut keterangan Daden berbeda dengan keterangan saksi lainnya.

Saksi lainnya, Marzuki yang merupakan satpam Komplek Polri Duren Tiga mengatakan mendengarkan lebih dari tiga kali suara tembakan saat peristiwa pembunuhan Brigadir Yosua. Marzuki mengatakan suara tembakan terdengar pukul 17.00 WIB.

Sementara itu, saksi Adzan Romer ditanya mengenai kronologi sebelum Yosua tewas. Kali ini hakim mengkonfirmasi apakah Ferdy Sambo tiba di rumah Duren Tiga sebelum Yosua tewas. Saksi Romer kemudian mengatakan saat Ferdy Sambo tiba di Duren Tiga, posisi Yosua sedang berada di taman depan rumah.

Romer juga mengungkapkan durasi waktu antara Ferdy Sambo tiba di rumah Duren Tiga dengan peristiwa penembakan diduga berjarak lima menit. Dalam kesaksiannya, Romer mengaku melihat senjata api jenis HS terjatuh dari tangan Ferdy Sambo saat turun dari mobil di depan rumah Duren Tiga. Saksi mengaku sebelumnya tidak pernah melihat Ferdy Sambo menggunakan sarung tangan.

Terdakwa Ferdy Sambo membantah keterangan Romer mengenai sarung tangan dan senjata. Sambo menegaskan tidak memegang senjata HS-9 milik Yosua. Kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua melihat kejanggalan dari keterangan saksi, khususnya dari para ajudan Ferdy Sambo.

Sidang masih akan berlangsung lama. Adu jeli dan strategi antara kuasa hukum terdakwa dengan jaksa penuntut umum akan terus mewarnai jalannya sidang. Di sisi lain, publik ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi sekaligus ingin keadilan ditegakkan.