10 February 2023 21:30
Kelangkaan minyak goreng bersubsidi Minyakita kembali terjadi dan merata di seluruh wilayah. Benarkah kelangkaan dipicu penggunaan CPO untuk BBM solar?
Warga menyerbu operasi pasar minyak goreng hingga berebut karena minyak goreng bersubsidi Minyakita kini sulit didapatkan dan harganya juga mahal di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Warga yang datang harus rela antre dan berdesakan untuk mendaptakan minyak goreng Minyakita.
Dalam operasi pasar ini, minyak goreng bersubsidi dijual dengan harga Rp12.500/botol kemasan 1 liter dan setiap warga hanya diperbolehkan membeli dua botol.
Operasi yang digelar Dinas Perdagangan Kota Makassar, Sulawesi Selatan, juga diserbu warga. Operasi pasar dilakukan di 153 titik sebaran yang ada di 15 kecamatan di Kota Makassar. Salah satunya di Jalan Daeng Tata Satu di Kecamatan Tamalate, Kota Makassar Sulawesi Selatan. MinyaKita ukuran satu liter dijual dengan harga Rp13 ribu dan tiap orang dijatah satu liter.
Di Pasar Cigombong, Bogor, Jawa Barat, para pedagang mengaku terpaksa menaikkan harga di atas harga eceran tertinggi. Para pedagang minyak di pasar Cigombong ini mengaku sudah sebulan terakhir ini mereka kesulitan mendapatkan pasokan MinyaKita dari distributor. Mereka mengeluh karena mengalami penurunan omzet.
Sementara itu, harga minyak curah yang biasanya jadi alternatif masyarakat terutama para pelaku usaha UMKM pun kini juga sulit didapat. Selain itu harganya juga melambung tinggi hingga mencapai Rp16 ribu dari yang awalnya Rp14 ribu.
Di tengah kelangkaan minyak goreng MinyaKita sebanyak 555 ribu liter MinyaKita kemasan botol menumpuk di salah satu gudang di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Temuan ini merupakan hasil sidak Menteri Pedagangan dan Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri.
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan mengatakan ratusan ribu liter Minyakita ini tertahan akibat Domestic Market Obligation (DMO) yang tertahan. Ia meminta agar MinyaKita harus tetap diedarkan terlebih dahulu agar menimalisir kelangkaan MinyaKita, khususnya untuk pulau Jawa.
Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), persoalan langkanya minyak goreng di pasar bukan semata-mata karena terjadi distorsi pasar dan penimbunan. Tapi ada masalah di hulu yang serius. Yang paling signifikan adalah penggunaan Crude Palm Oil (CPO) untuk kebutuhan bahan bakar lebih banyak ketimbang CPO untuk pangan.
Fakta kelangkaan minyak goreng yang terus berulang membuktikan bahwa ini bukan masalah sederhana. Sebab musabab kelangkaan harus dirunut hingga ke masalah kebijakan makronya.