NEWSTICKER

Perjalanan KPK Merampas Lukas

11 January 2023 20:00

Perjalanan KPK menetapkan Lukas Enembe sebagai tersangka bermula dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang mengungkap selama lima tahun terakhir ada 12 dugaan pengelolaan keuangan yang tidak wajar mengarah ke dugaaan tindak pidana korupsi. Laporan tersebut diteruskan ke KPK, kemudian diproses hingga Enembe ditetapkan sebagai tersangka.

Perjalanan karir Lukas Enembe di dunia politik dimulai ketika dia mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya pada 2005. Lalu berlanjut naik menjadi Bupati Kabupaten Puncak Jaya pada 2007 dan naik lagi sebagai Gubernur Papua sejak 2013 bersama wakilnya Klemen Tinal.

Menurut LHKPN, Lukas Enembe memiliki total harta lebih dari Rp33 miliar. Jumlah ini menjadikannya Gubernur terkaya keenam di Indonesia. Lukas Enembe tercatat tidak memiliki utang sama sekali alias merupakan total bersih.

Pada 12 Agustus 2022, Lukas diduga telah melanggar Pasal 2 & 3 UU Tindak Pidana Korupsi. Ia disebut melakukan perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan kerugian negara. Pada 5 September 2022, Lukas ditetapkan sebagai tersangka dengan dijerat Pasal 11 atau 12 UU Tindak Pidana Korupsi tentang Delik Gratifikasi.

KPK kemudian memanggil Lukas untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kasus ini. Namun, dua kali pemanggilan Lukas tidak datang dengan alasan sakit. Pihak Lukas Enembe menyebut Gubernur sudah biasa mendapatkan perawatan di Singapura, sehingga meminta izin berobat ke Singapura dan meminta agar pencekalan ke luar negeri ditarik.

Namun, KPK akan mengizinkan Lukas menjalani pengobatan di Singapura jika dirinya datang ke Jakarta terlebih dahulu dan melakukan pemeriksaan bersama dokter resmi dari KPK.

Empat bulan berselang, KPK akhirnya menangkap Lukas Enembe di Jayapura, Papua, Selasa (10/1/2023). Lalu, KPK mengumumkan resmi menahan Lukas selama 20 hari dimulai pada Rabu (11/1/2023). Namun, upaya paksa itu dibantarkan ke RSPAD Gatot Soebroto karena Gubernur Papua tersebut membutuhkan penanganan medis.