22 August 2026 20:10
Manggarai: Anggota DPR RI Fraksi NasDem Julie Sutrisno Laiskodat bersama Ketua Fraksi NasDem DPR RI Viktor Laiskodat meninjau posko pengungsi disabilitas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pascagempa bermagnitudo 7,7. Bantuan kebutuhan dasar disalurkan sekaligus memastikan pendampingan bagi penyandang disabilitas dilakukan secara berkelanjutan.
Posko pengungsian yang berada di sebuah bengkel mebel di Jalan Gawal, Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, menampung puluhan warga, termasuk anak-anak. Mereka terpaksa mengungsi karena rumah mengalami kerusakan akibat gempa.
Julie mengatakan kebutuhan penyandang disabilitas tidak dapat dipenuhi hanya melalui bantuan sekali datang. Menurutnya, pendampingan dan pemantauan harus dilakukan secara berkala selama proses pemulihan.
"Dari yang dewasa maupun anak-anak, itu yang memang kebutuhan khusus ya, tidak bisa melihat sehingga waktu gempa kami hari ini ada beri bantuan kebutuhan dan nanti akan berkala terus," ujar Julie dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Selain bantuan logistik, perhatian juga diberikan terhadap kebutuhan psikologis para pengungsi. Penyandang disabilitas menghadapi kesulitan saat harus menyelamatkan diri ketika gempa susulan terjadi.
Diana, salah satu pengungsi tunanetra, mengaku kesulitan membantu anak-anaknya saat gempa kembali terjadi. Keterbatasan penglihatan membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit, bahkan untuk sekadar mengarahkan anak menuju pintu keluar.
"Kami tuh kesusahan dan kami enggak ngerti sebenarnya cara mengatasi trauma mereka tuh seperti apa," kata Diana.
Ia berharap para pengungsi mendapatkan pembekalan dan pendampingan untuk membantu mengatasi trauma, terutama karena sebagian besar penghuni posko merupakan penyandang tunanetra.
Sementara itu, relawan posko Andre Rohi menyebut kebutuhan fisik seperti kasur dan selimut juga menjadi perhatian. Cuaca dingin di kawasan Ruteng membuat perlengkapan tersebut penting untuk menunjang kenyamanan pengungsi saat beristirahat.
"Puji Tuhan, terkhususnya untuk teman-teman disabilitas terpenuhi, tercukupi, mereka boleh mendapatkan rasa aman, rasa tenanglah untuk beristirahat malam dari kedinginan," ujar Andre.
Posko tersebut awalnya hanya menampung lima keluarga. Namun, jumlah pengungsi terus bertambah hingga mencapai puluhan jiwa setelah sejumlah rumah mengalami kerusakan akibat gempa.