19 January 2026 23:28
Orang tua pramugari Esther Aprilita berharap mukjizat Tuhan dalam insiden pesawat ATR 42-500 yang jatuh di lereng Gunung Balas Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sambil menunggu kepastian pencarian oleh tim SAR gabungan, ibunda Esther, J. Siburian, masih berharap anak pertama mereka ditemukan dalam keadaan selamat.
"Harapannya mukjizat Tuhan itu masih ada," ucap J. Siburian.
Esther Aprilita, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, menjadi salah satu korban dalam kecelakaan pesawat di pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Esther merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Enam tahun menjalani profesi sebagai pramugari, ia menjadi kebanggaan sekaligus harapan keluarga.
Di rumah keluarga di Bogor, ibunda Esther mengenang komunikasi terakhir dengan putri tercintanya pada Jumat malam. Esther saat itu mengabarkan sedang berada di Yogyakarta. Namun, keesokan harinya komunikasi terputus.
"Saya komunikasi terakhir hari Jumat malam kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu besoknya dia komunikasi, 'Aku udah di sini Mah. Ah, di sini Mah gitu.' Jadi kalau komunikasinya terakhir hari Jumat, Sabtunya kejadian dia belum ada komunikasi. Jadi komunikasi terakhirnya itu hari Jumat malam," kenang J. Siburian.
Kabar hilangnya kontak pesawat menjadi awal duka bagi keluarga. Hingga kini keluarga masih menunggu kepastian kabar Esther. Keluarga berharap ada mukjizat sebelum kepulangan itu diterima dengan keikhlasan.
"Harapannya mukjizat Tuhan itu masih ada. Selama kami belum melihat Esther, mukjizat Tuhan pasti ada," tambahnya.
Sementara keluarga menunggu dengan doa, upaya pencarian dan pertolongan terus dilakukan di medan yang jauh dari kata bersahabat. Keluarga Esther selalu berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengetahui perkembangan pencarian putri tercinta dan korban lainnya.