9 December 2025 19:45
Ketua BAKN DPR RI Andreas Eddy Susetyo mendorong evaluasi menyeluruh terhadap skema subsidi pupuk yang telah berlangsung selama lebih dari 35 tahun. Ia menyebut skema cost plus yang selama ini digunakan dinilai inefisiensi dalam mekanisme subsidi.
Andreas menjelaskan penghitungan subsidi cost plus tidak lagi relevan, lantaran didasari pada biaya produksi ditambah margin perusahaan. Ia mengungkapkan inefisiensi tersebut diindikasikan melalui temuan IPK dan pendalaman holistik terhadap kinerja industri pupuk nasional.
Sumber inefisiensi disebut bukan hanya berasal dari internal PT Pupuk Indonesia, namun juga dipengaruhi oleh kebijakan yang sudah lama tidak relevan. Akibat skema yang berlaku saat ini, pabrik-pabrik pupuk yang sudah berusia tua tetap berproduksi meski biayanya tinggi, lantaran mereka tetap mendapatkan margin dari subsidi.
"Atas dasar itu maka kita ingin ini dilakukan evaluasi skema ini, sehingga salah satu skema yang bisa dilakukan adalah misalkan dengan mekanisme perubahan menjadi dibandingkan dengan harga pasar. Jadi mekanisme subsidinya, itu berdasarkan harga mekanisme pasar," ungkap Andreas usai menghadiri rapat paripurna DPR RI ke-10 di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta.
Andreas Eddy mendorong perubahan ke skema subsidi berbasis harga pasar agar produksi dapat dialihkan ke pabrik-pabrik yang lebih modern dan efisien. Selain itu, ia mengusulkan sebagian subsidi dialokasikan untuk investasi pembaruan pabrik agar biaya produksi menurun. Lewat skema baru ini, harga eceran pupuk ditargetkan dapat turun setidaknya 20%, sehingga petani bisa mendapatkan pupuk dengan harga yang lebih terjangkau.
| Baca juga: Menkeu Dapat Deadline 6 Bulan Benahi Subsidi Salah Sasaran |