Bedah Editorial MI: Juara, Lalu Menatap Dunia

7 October 2026 08:43

PENANTIAN panjang itu akhirnya berakhir. Setelah 35 tahun menunggu, Timnas Indonesia akhirnya merasakan manisnya menjadi juara turnamen sepak bola senior Asia Tenggara melalui FIFA ASEAN Cup 2026.

Kita pantas bergembira. Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pemain, pelatih, ofisial, dan seluruh pihak yang bekerja di belakang layar. Gelar itu bukan sekadar trofi. Ia ialah jawaban atas penantian panjang sepak bola Indonesia yang berkali-kali begitu dekat dengan tangga juara, tetapi selalu gagal menaiki anak tangga terakhir.

Karena itu, nikmatilah kemenangan ini. Rayakanlah. Sepak bola memang tidak melulu soal menang dan kalah, tetapi menjadi juara tetaplah tujuan sebuah kompetisi.

Namun, pesta mesti memiliki batas. Selebrasi jangan sampai membuat kita terlena. Justru gelar juara ASEAN tersebut harus dijadikan momentum oleh PSSI untuk segera memikirkan pekerjaan yang jauh lebih besar, yaitu membawa sepak bola Indonesia naik kelas di Asia dan dunia.

Targetnya mesti jelas. Indonesia tidak boleh selamanya menjadikan gelar Asia Tenggara sebagai puncak pencapaian. PSSI mesti berani memasang sasaran masuk delapan besar Asia dan lolos ke Piala Dunia 2030.

Untuk mencapainya, regenerasi tidak boleh lagi berjalan alamiah, apalagi sporadis. Regenerasi harus dirancang, dikelola, dan dijalankan secara sistematis.
 


PSSI mesti memastikan kompetisi kelompok umur berjalan sehat dan berjenjang. Pembinaan pemain usia muda harus memiliki standar yang sama, dari teknik, fisik, nutrisi, hingga pemahaman taktik. Klub pun harus didorong, bahkan diwajibkan, memiliki akademi yang sungguh-sungguh melahirkan pemain, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.

Pencarian pemain diaspora tetap penting. Naturalisasi pun sah sebagai salah satu jalan memperkuat tim nasional. Namun, keduanya tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pembinaan pemain dari rahim kompetisi sendiri.

Keberhasilan sepak bola tidak dibangun hanya untuk satu turnamen. Jepang, Korea Selatan, bahkan negara-negara yang kini menjadi kekuatan baru Asia, memetik hasil dari investasi pembinaan yang berlangsung bertahun-tahun.

Indonesia mesti menempuh jalan serupa. Kita memiliki jumlah penduduk besar, gairah sepak bola luar biasa, dan talenta yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Potensi sebesar itu harus dikelola menjadi kekuatan.

FIFA ASEAN Cup 2026 karena itu semestinya menjadi titik berangkat, bukan titik akhir. Setelah 35 tahun menunggu, Indonesia akhirnya menjadi raja ASEAN. Kini waktunya membangun generasi yang mampu menjadi raksasa Asia dan mengetuk pintu Piala Dunia 2030.  

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X