23 October 2026 22:56
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melahirkan tren baru dalam dunia bisnis global. Salah satu fenomena yang sedang berkembang pesat di Tiongkok adalah AI One Person Company (AI OPC), yakni model perusahaan yang hanya dijalankan oleh satu hingga dua karyawan manusia, namun mampu mencetak omzet hingga triliunan rupiah.
Model bisnis ini mengandalkan ratusan agen AI (AI agent) untuk menjalankan berbagai fungsi operasional, mulai dari pemasaran (marketing), pengembangan produk, hingga layanan pelanggan (customer service). Saat ini, tercatat ada sekitar 16 juta AI OPC di Tiongkok yang berfokus pada sektor produk digital, perangkat lunak (software), dan jasa.
Dukungan Subsidi dan Fasilitas Pemerintah Tiongkok
Keberhasilan pesat model AI OPC di Tiongkok tidak terlepas dari intervensi pemerintah yang menempatkan pengembangan AI sebagai program prioritas. Pemerintah Tiongkok memberikan subsidi bernilai besar untuk mendorong warganya menguasai teknologi ini.
Content Creator AI, Raymond Chin, mengungkapkan bahwa pemerintah Tiongkok menyediakan alokasi anggaran hingga miliaran rupiah bagi pendaftar program AI OPC. Sebagian besar dana tersebut disalurkan untuk pendidikan, pelatihan, tempat kerja, dan akses alat AI.
"Di sana satu orang yang daftar AI OPC itu bisa dapat subsidi sampai Rp23 miliar per orang mayoritas buat pendidikan pelatihan. Jadi mereka bisa klaim misalnya ke kota Shenzhen atau ke Guangzhou bisa dapat pelatihan gratis, kantor gratis, bisa dapat AI gratis," kata Raymond Chin dalam tayagan Meet Nite Live, Jumat, 23 Oktober 2026.
Raymond menambahkan bahwa penguasaan AI menjadi penentu daya saing ekonomi suatu bangsa di masa depan.
"Negara yang rakyatnya jago AI pasti menang ekonomi, yang rakyatnya enggak jago AI pasti ketinggalan kayak kita," tegasnya.
Pola Penggunaan AI di Indonesia dan Singapura
Meskipun tingkat penggunaan AI di Indonesia tergolong tinggi, pola pemanfaatannya dinilai masih belum optimal. Berdasarkan data dari Google Singapura, masyarakat Indonesia cenderung menggunakan perintah (prompt) yang sangat singkat serta membatasi penggunaan AI hanya untuk pembuatan gambar atau interaksi ringan.
Kondisi tersebut berbeda dengan Singapura, di mana pemerintah memfasilitasi akses AI gratis bagi seluruh warga untuk menunjang efisiensi kerja sehari-hari.
Baca Juga :
Peluang Bisnis Jasa dan Edukasi AI
Perusahaan pengembang AI terkemuka di dunia, seperti OpenAI dan Anthropic, memproyeksikan bahwa industri bernilai USD1 triliun di masa depan bukanlah sekadar industri teknologi perangkat keras, melainkan industri jasa[6]. Peluang besar ini terbuka karena ketersediaan SDM yang memahami tata cara pengoperasian AI masih sangat terbatas.
"Karena AI di seluruh dunia itu udah canggih banget sekarang, yang kurang justru manusia yang mengerti AI. Jadi dia bilang bisnis-bisnis yang bisa ngebantu orang lain belajar AI kayak agency , consulting , apa itu bisnis-bisnis yang bakal cuan gede banget ke depannya," jelas Raymond.
Risiko Keamanan dan Tantangan Perkembangan AI
Di sisi lain, laju perkembangan AI yang sangat cepat juga membawa risiko keamanan siber. Tantangan makin kompleks karena proses pelatihan AI kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada masukan manusia, melainkan telah memasuki tahap AI melatih AI (AI trained by AI).
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran global mengenai potensi peretasan massal serta ancaman kehilangan kendali atas teknologi. Hal ini mendorong sejumlah pengembang dan ahli mendesak adanya penghentian sementara (pause) dalam pengembangan AI untuk merumuskan batasan keamanan yang lebih ketat.