Alzheimer Indonesia (ALZI) menutup rangkaian Bulan Alzheimer Sedunia 2026 dengan menggelar acara bertajuk "Bergerak Melawan Demensia: Investasi Otak Sehat dari Sekarang!". Kegiatan yang berlangsung di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Jakarta ini mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap isu demensia melalui pentingnya deteksi dini.
Acara penutupan tersebut mempertemukan Orang Dengan Demensia (ODD), keluarga pendamping (caregiver), tenaga kesehatan, akademisi, media, serta berbagai mitra terkait lainnya. Peringatan yang dirayakan oleh lebih dari 100 negara di dunia sepanjang bulan September 2026 ini mengusung tema utama "#PentingnyaDeteksiDiniDemensia" dengan pesan ajakan "Kenali Lebih Awal, Siapkan Lebih Baik".
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa demensia bukanlah proses normal dari penuaan. Ia menyoroti pentingnya peran sinergis dari seluruh elemen masyarakat untuk saling bekerja sama dalam membantu orang dengan demensia beserta para pendampingnya di Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Plt Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia, Imelda Theresia, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai mengenali gejala demensia sejak dini. Langkah preventif ini sangat krusial agar para pendamping bisa mendapatkan dukungan penuh dalam merawat orang dengan demensia.
"Di tahun 2026 ini, tema World Alzheimer's Month adalah 'Kenali Lebih Awal, Siapkan Lebih Baik'. Dengan mengenali lebih awal, kita bisa menyiapkan dan
caregiver bisa mendapatkan dukungan untuk merawat orang dengan demensia. Tanpa dukungan yang pasti dan jelas,
caregiver akan mendapatkan beban perawatan yang sangat berat," kata Imelda dikutip dari
Metro Siang, Metro TV, Kamis 1 Oktober 2026.
Imelda mengungkapkan fakta tingginya masalah kognitif di kalangan lanjut usia (
lansia) di Tanah Air yang menuntut perhatian serius. Ia turut menyoroti stigma mengenai kepikunan masih sering salah diartikan oleh masyarakat umum.
"Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara tua karena sudah hampir 12% lansianya, dan di tahun 2045 akan ada 20%. Artinya dari lima orang, salah satunya adalah lansia pada tahun 2045. Setelah itu bagaimana? Karena sampai saat ini kepikunan masih dianggap sebagai hal yang normal, hal yang lumrah kalau lansia itu lupa atau berubah kembali menjadi seperti anak-anak," paparnya.