NEWSTICKER

Belajar dari Inggris

27 October 2022 07:20

RISHI Sunak terpilih menjadi perdana menteri (PM) Inggris yang baru. Pria keturunan India berusia 42 tahun itu merupakan pemimpin kulit berwarna pertama di Inggris dan termuda dalam 200 tahun. Ia menggantikan Liz Truss, pemimpin sebelumnya yang mengundurkan diri setelah menjabat selama 44 hari.

Terpilihnya Sunak disambut meriah tidak hanya oleh masyarakat Inggris, tetapi juga warga India. Mereka bangga anak imigran bisa menjadi pemimpin di negara yang pernah menjajah mereka. Perdana Menteri India Narendra Modi berharap di bawah kepemimpinan Sunak, kerja sama Inggris dan India semakin erat, terutama dalam isu-isu global.

Presiden Dewan Eropa Charles Michel, PM Irlandia Michael Martin, dan Presiden Jokowi pun tak ketinggalan untuk memberi ucapan selamat atas terpilihnya Sunak. Mereka pun berharap dapat menjalin kerja sama yang lebih erat dengan Inggris. Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut terpilihnya Sunak sebagai PM Inggris sebagai 'tonggak terobosan'. Terpilihnya Sunak bermakna bagi semangat keberagaman Inggris.

Dalam pidatonya kemarin, PM Inggris pertama yang beragama Hindu itu menegaskan Inggris sedang menghadapi tantangan ekonomi yang serius sehingga butuh stabilitas dan persatuan. Itu akan menjadi prioritas utama yang akan dikerjakannya. Apa yang disampaikan Sunak dalam pidatonya itu merupakan permasalahan yang dihadapi hampir semua negara. Krisis global yang sedang berlangsung ialah persoalan yang dihadapi semua pemimpin dunia saat ini. Stabilitas dan persatuan seperti yang ia sampaikan dalam pidatonya itu merupakan modal dasar dalam menghadapi krisis.

Kita tentu berharap Sunak dapat membawa perubahan dan membangkitkan kepercayaan masyarakat Inggris yang tengah dilanda krisis. Di era yang kian terhubung, seluruh dunia pun berkepentingan atas pulihnya perekonomian negara itu, termasuk Indonesia. Perubahan yang dijanjikan memang masih menunggu untuk dibuktikan. Akan tetapi, terpilihnya Sunak juga telah melahirkan harapan bahwa persoalan kepemimpinan jangan selalu dikaitkan dengan identitas. Siapa pun berhak asalkan punya kapasitas.

Indonesia sebagai negara penganut demokrasi dan berpenduduk majemuk semestinya juga bisa belajar dari Inggris. Mencari seorang pemimpin jangan dilihat dari suku, ras, ataupun agamanya, tetapi lebih pada kecakapannya dalam memimpin. Selama ini, bangsa ini masih mempersoalkan mayoritas-minoritas, Jawa-luar Jawa, pribumi-nonpribumi, sipil-militer, partai nasionalis-partai agama, dan perbedaan yang lainnya. Demikian juga elite pemimpin nasional dan daerah belum mempunyai kedewasaan dalam berpolitik.

Indonesia harus bisa menghilangkan itu semua. Saatnya semua elemen bangsa bersatu dan berlomba membawa negara ini ke arah yang lebih baik. Rivalitas dalam berpolitik ialah keniscayaan, tetapi jangan sampai membuat negeri ini terus gontok-gontokan hanya karena persoalan identitas. Tantangan ke depan semakin kompleks. Yang paling dibutuhkan saat ini persatuan dan kesatuan.

Sumber: Media Indonesia