Puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak Nasional 2570 Buddhis Era (BE)/2026 yang digelar oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) di Zona 1 Candi Agung Borobudur, Magelang, berlangsung dengan sangat khidmat. Acara sakral ini turut dihadiri langsung oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, beserta jajaran menteri Kabinet Merah Putih.
Rangkaian acara ditutup dengan momen ikonis yang penuh makna, yakni pelepasan lentera perdamaian yang menerangi langit malam Borobudur.
Sebelum malam puncak Dharmasanti, prosesi keagamaan telah diawali dengan Kirab Agung. Ribuan umat berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sembari membawa sarana puja, air berkah, dan api dharma.
Puncak kekhusyukan terjadi saat memasuki detik-detik Waisak pada pukul 15.44 WIB. Momen sakral ini diisi dengan meditasi bersama yang dituntun oleh Yang Mulia Bhante Wongsin Labhiko Mahathera. Setelahnya, prosesi dilanjutkan dengan pemberkatan oleh para Bhikkhu Sangha dan ditutup dengan Pradaksina (mengelilingi candi) oleh seluruh umat.
Pesan Wapres Gibran: Perbedaan adalah Kekuatan
Pada malam harinya, Wapres Gibran Rakabuming Raka hadir dalam acara Dharmasanti Waisak. Dalam sambutannya, Gibran menegaskan bahwa Waisak bukan sekadar perayaan keagamaan semata, melainkan refleksi kuat akan identitas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi.
"Perayaan Waisak di Borobudur malam ini menjadi simbol kuat bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang menjunjung tinggi perdamaian, menghargai keberagaman, serta mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan," kata Wapres Gibran dikutip dari
Metro Siang, Metro TV, Senin 1 Juni 2026.
Wapres juga mengingatkan bahwa sebagai bangsa yang besar, persatuan dan perdamaian adalah modal utama pembangunan. Ia mengajak seluruh umat Buddha di Indonesia untuk terus menjadi pelopor perdamaian dan berkontribusi aktif dalam menjaga persaudaraan lintas agama.
Tanggung Jawab Umat Menjaga Toleransi
Senada dengan pesan tersebut, Ketua Umum DPP WALUBI, Hartati Murdaya, juga menekankan peran penting umat Buddha dalam merawat kemajemukan bangsa. Perbedaan yang ada, menurutnya, harus dipersatukan melalui sikap saling menghormati.
"Umat Buddha Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta menghadirkan kedamaian di tengah keberagaman. WALUBI terus mendorong partisipasi umat dalam dharma agama dan dharma negara sebagai kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa," tutur Hartati.