Ilustrasi. Foto: dok MI.
Surplus Dagang RI Capai USD7,25 Miliar, Impor Tumbuh 19,84%
Ade Hapsari Lestarini • 1 October 2026 18:55
Jakarta: Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor sebesar USD193,64 miliar dan impor USD186,39 miliar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan pada Agustus 2026 mencapai USD3,55 miliar.
“Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD21,29 miliar,” jelas Ateng di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ekspor tumbuh 4,74%
Dari sisi ekspor, Indonesia mencatat nilai USD193,64 miliar selama Januari-Agustus 2026. Nilai tersebut meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor nonmigas menjadi penyumbang utama dengan nilai USD185,63 miliar, tumbuh 5,48 persen secara tahunan.
Berdasarkan sektor, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar ekspor dengan nilai USD159,55 miliar. Angka tersebut meningkat 7,87 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.
Dari sisi tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar dengan nilai USD47,44 miliar atau 25,55 persen dari total ekspor nonmigas.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan nilai USD22,41 miliar atau 12,07 persen, disusul India sebesar USD12,77 miliar atau 6,88 persen.


Impor tumbuh hampir 20%
Sementara itu, impor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai USD186,39 miliar, meningkat 19,84 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kenaikan terjadi pada impor nonmigas maupun migas. Impor nonmigas tumbuh 16,83 persen menjadi USD157,09 miliar, sedangkan impor migas melonjak 39,03 persen menjadi USD29,30 miliar.
Berdasarkan jenis penggunaan barang, impor bahan baku dan barang penolong masih mendominasi dengan nilai USD133,38 miliar. Nilainya meningkat 20,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Impor barang modal juga naik 18,82 persen menjadi USD36,75 miliar. Sementara impor barang konsumsi meningkat 15,48 persen menjadi USD16,27 miliar.
Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok utama barang nonmigas ke Indonesia dengan nilai impor USD66,64 miliar atau 42,42 persen dari total impor nonmigas.
Jepang menyusul dengan nilai USD8,88 miliar atau 5,65 persen, kemudian Australia sebesar USD7,31 miliar atau 4,65 persen.
Komoditas penyumbang surplus
Surplus perdagangan nonmigas Indonesia masih ditopang sejumlah komoditas utama.
Lemak dan minyak hewani atau nabati mencatat surplus terbesar sebesar USD24,91 miliar. Selanjutnya, bahan bakar mineral memberikan surplus USD18,84 miliar.
Besi dan baja menyumbang surplus USD12,10 miliar, diikuti nikel dan barang daripadanya sebesar USD8,38 miliar serta alas kaki USD4,33 miliar.
Dengan demikian, meski impor tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sepanjang delapan bulan pertama 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus. Struktur surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas, sementara sektor migas masih mengalami defisit.