Pemerintah dan UNDP Perkuat Kolaborasi Mengatasi Pencemaran Plastik dari Sungai

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Dok. Istimewa

Pemerintah dan UNDP Perkuat Kolaborasi Mengatasi Pencemaran Plastik dari Sungai

Achmad Zulfikar Fazli • 17 October 2026 15:50

Bali: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan United Nations Development Programme (UNDP) meluncurkan Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution (Program Sungai Lestari) di Bali. Inisiatif ini memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan pengelolaan sampah, mencegah sampah plastik mencemari sungai, serta melindungi ekosistem pesisir dan laut Indonesia.

Peluncuran yang diawali dengan aksi pembersihan kawasan mangrove ini menunjukkan keterkaitan antara pengelolaan sampah di daratan, kesehatan ekosistem pesisir, dan keberlanjutan Bali dalam jangka panjang. Bali sebagai salah satu destinasi pariwisata internasional utama bergantung pada lingkungan laut yang sehat, tidak hanya bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi mata pencaharian masyarakat pesisir dan ketahanan ekonomi pariwisatanya.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan upaya pelestarian ini penting untuk menjaga modal karbon biru Indonesia yang sangat besar, yakni 3,46 juta hektare mangrove dan 660 ribu hektare padang lamun. Menurut dia, sampah yang mencemari sungai dan pesisir dapat mengganggu ekosistem tersebut sekaligus sumber pangan yang bergantung padanya.

“Sampah seperti plastik, kain, apalagi kertas, sangat sulit terurai dan menghambat akar tumbuh, sehingga mengganggu kehidupan di sekitarnya. Sungai adalah tempat berkembangnya biota air seperti udang, kepiting, dan ikan. Jika sampahnya banyak, biota ini akan mati dan tidak bisa tumbuh lagi. Sebaliknya, sungai yang bersih akan membuat mereka berkembang dengan baik,” ujar Zulkifli dalam keterangan tertulis, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Zulfikli mengatakan masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dianam di sawah dan ladang, tetapi juga apa yang dibudidayakan, panen, dan menjaga di laut.
 


Pemerintah juga terus mendorong investasi dalam pengolahan sampah, termasuk rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Denpasar. Program Sungai Lestari melengkapi upaya tersebut dengan mencegah sampah bocor ke lingkungan dan mencemari laut.

Melalui penguatan upaya pengurangan sampah, pemilahan, pengumpulan sampah yang belum tertangani di sungai, serta daur ulang sebelum sampah mencapai tempat pemrosesan akhir (TPA), program ini mendukung pendekatan pengelolaan sampah yang lebih terpadu.

“Keindahan alam Bali, dari sungai, mangrove, hingga perairan pesisirnya, adalah inti identitas pulau ini, kesejahteraan masyarakatnya, dan ekonomi pariwisatanya yang berkembang pesat. Pengelolaan sampah yang lebih baik turut membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus menciptakan pendapatan dan mata pencaharian bagi masyarakat setempat dan pekerja persampahan,” ujar Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella.

Pihaknya memastikan siap mendukung Indonesia serta pemerintah provinsi dan daerah di Bali dalam mendorong solusi berbasis lokal, memperkuat partisipasi masyarakat, dan menjajaki pembiayaan inovatif agar upaya ini berkelanjutan.

“Bersama, kita dapat mendukung cita-cita Indonesia dengan melindungi warisan alam Bali dan mata pencaharian masyarakat bagi generasi mendatang,” ujar Sara.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan melihat penimbangan sampah. Dok. Istimewa

Salah satu keunggulan program ini adalah mekanisme pembiayaan berbasis kinerja. Pendanaan bagi organisasi masyarakat sipil (OMS) dikaitkan dengan hasil yang diverifikasi secara independen, yaitu jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan dan dialihkan dari lingkungan ke jalur pengelolaan yang semestinya. Pendekatan ini  memperkuat akuntabilitas sekaligus membantu mengidentifikasi solusi efektif untuk meningkatkan pengelolaan sampah di tingkat lokal.

Program ini juga mencakup pelibatan masyarakat dan kegiatan perubahan perilaku guna mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta menumbuhkan kesadaran bahwa perlindungan sungai dan ekosistem pesisir adalah tanggung jawab bersama.

Program Sungai Lestari dilaksanakan di lima lokasi prioritas, yaitu Bekasi, Surakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Bali. Di Bali, program percontohan berlokasi di Tukad Badung, Kota Denpasar, dan Tukad Mati, Kabupaten Badung.

Sejak dimulai di Surabaya dan Surakarta pada Mei 2026, program ini telah mengangkat 492 ton sampah dari empat sungai, berkat dukungan empat OMS, 55 bank sampah, 1.200 perempuan, dan 20 kelurahan yang bekerja sama dengan instansi lingkungan hidup setempat.

Pada tahap awal, program ini menjangkau kawasan di sepanjang sungai yang dihuni lebih dari 54.000 penduduk. paya ini memperkuat pengelolaan sampah di tingkat lokal sekaligus mengurangi risiko pencemaran bagi masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.

Sejak Oktober 2026, pelaksanaan program juga diperluas ke Bekasi dan Sidoarjo, dengan target pengelolaan sampah gabungan sekitar 5.066 ton hingga 2027. 

Melalui Program Sungai Lestari, Pemerintah Indonesia, UNDP, dan UAE-Clean Rivers mendorong solusi berbasis kebutuhan dan inisiatif lokal, sekaligus mengaitkan pengelolaan sampah dengan agenda lingkungan dan pembangunan yang lebih luas.

Dengan menangani pencemaran plastik dari sumber hingga ke laut, upaya ini bertujuan melindungi ekosistem, mendukung mata pencaharian berkelanjutan, dan menjaga kekayaan alam yang menjadi fondasi ekonomi biru Indonesia.

(Achmad Zulfikar Fazli)