Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Grib Jaya, Zulfikar. Foto: tangkapan layar Youtube Metro TV
GRIB Jaya Tegaskan Tidak Terlibat Pengeroyokan di Pejompongan
Muhamad Marup • 2 September 2026 21:57
Jakarta: Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Grib Jaya, Zulfikar, membantah kelompoknya terlibat dalam insiden pengeroyokan di Pejompongan, Jakarta Barat pada Kamis, 27 Agustus 2026. Atas insiden tersebut, seorang warga, Bambang Setiawan, jadi korban hingga tewas.
"Saya tahu itu anggota kami atau bukan. Jelas itu bukan anggota kami. Mereka tidak terdaftar dalam anggota kami, saya tidak mengenal mereka," ujar Zulfikar, dalam program Cover Both Sides Metro TV, Rabu, 2 September 2026, pukul 21.05 WIB.
Ia menyatakan siap menerima konsekuensi apabila pernyataannya mengenai identitas kelompok tersebut terbukti tidak benar. Ia menegaskan Grib Jaya tidak akan mengelak maupun melepaskan tanggung jawab apabila memang anggotanya terbukti terlibat.
"Kalau ternyata saya berbohong, ini di hadapan masyarakat umum saya bicara hari ini. Saya siap menerima konsekuensi moral, konsekuensi hukum dan apapun," jelasnya.
Zulfikar menekankan, Grib Jaya selama ini tidak ingin organisasinya dicitrakan sebagai kelompok yang identik dengan tindakan kriminal. Menurutnya, kegiatan organisasi justru banyak diarahkan pada kegiatan sosial dan membantu masyarakat.
"Kami sebagai organisasi, pada umumnya organisasi, kami berbuat kebaikan-kebaikan, kegiatan sosial. Kami bedah rumah di Jawa Barat. Kami kasih makan gratis," katanya.

Cover Both Sides. Foto: Metro TV
Zulfikar juga menyinggung aksi massa sebelumnya yang dilakukan sejumlah kelompok di kawasan gedung DPR-MPR. Menurutnya, aksi tersebut memiliki tuntutan yang jelas, termasuk mendesak pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset dan pemberian hukuman berat terhadap koruptor.
Ia membedakan aksi tersebut dengan kelompok yang muncul pada sore hingga malam hari dan dinilai melakukan tindakan anarkis. Ia menyebut kelompok tersebut datang dari sejumlah titik tanpa pemberitahuan dan tidak memiliki tuntutan yang jelas.
"Kalau kebebasan pendapat, silakan aja. Kami juga menghargai itu. Kami juga, ini Ormas," tuturnya.
Zulfikar menegaskan Grib Jaya secara institusi tidak pernah memerintahkan anggotanya turun menghadapi massa yang melakukan kerusuhan. Menurutnya, keterlibatan sejumlah orang yang kebetulan merupakan anggota Grib Jaya harus dibedakan dari tindakan organisasi secara kelembagaan.
"Secara institusi keorganisasian, kami tidak ada turun. Ini kan hanya framing," ucapnya.
Ia mengklaim sejumlah anggota Grib Jaya turun sebagai warga masyarakat karena merasa wilayahnya terganggu akibat kerusuhan. Ia mencontohkan adanya kendaraan yang dirusak dan masyarakat yang merasa ketakutan akibat situasi yang menurutnya semakin mencekam.
"Kenapa kami turun hadir membawa bambu? Karena kami tahu, orang-orang yang akan kami datangin itu bawa parang, bawa kayu juga. Jadi mereka sudah bersenjata terlebih dahulu," terangnya.