Tangkapan petugas pemadam dalam memadamkan karhutla di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Instagram @dishut.kaltara
Mereka Juga Lelah, Perjuangan Petugas Padamkan Karhutla Demi Langit Kembali Biru
Whisnu Mardiansyah • 23 August 2026 09:50
Bulungan: Di tengah hamparan lahan yang menghitam, seorang petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) duduk sejenak. Seragam merah yang dikenakannya dipenuhi jejak debu dan abu sisa karhutla, sementara di tangannya masih tergenggam perangkat pemadam.
Di sekelilingnya, tanah dipenuhi sisa vegetasi yang terbakar. Ranting-ranting mengering dan menghitam. Asap tipis masih tampak membubung dari permukaan lahan.
Mereka tampak duduk sejenak mengambil jeda. Petugas itu tidak sedang menyerah. Ia hanya mengambil rehat setelah berjibaku memadamkan titik api di Selimau 3, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Kamis, 20 Agustus 2026.
Potret para petugas terlihat lesu seolah menggambarkan sisi lain dari perjuangan petugas pemadam. Di balik seragam pelindung dan peralatan kerja, ada manusia yang tetap harus bertahan di tengah panas, asap, serta kondisi lahan yang terbakar.
Masker pelindung menutup hidung dan mulutnya. Selang pemadam berada di tangannya, menyemburkan air ke permukaan lahan yang masih dipenuhi sisa pembakaran. Air diarahkan ke titik-titik yang masih mengeluarkan panas. Setiap bagian lahan yang telah dilalap api perlu ditangani agar tidak kembali menyala.
Pekerjaan memadamkan karhutla bukan sekadar berhadapan dengan kobaran api yang terlihat. Petugas juga harus menghadapi kondisi lahan yang telah terbakar dan asap yang mengganggu jarak pandang serta pernapasan. Dalam situasi seperti itu, perlengkapan pelindung menjadi bagian penting dalam pekerjaan mereka.
Mereka bekerja di antara batang-batang pohon, semak, dan vegetasi yang telah mengering. Warna merah seragam menjadi kontras dengan hamparan lahan yang berubah menjadi abu-abu dan hitam. Panas datang dari tanah yang terbakar. Asap menyelimuti kawasan. Namun, pekerjaan belum selesai selama masih terdapat titik api yang harus dipadamkan.
Tidak ada kemewahan, hanya tanah hangus, sisa ranting, dan udara yang masih dipenuhi asap. Lelah tidak membuat tugas berhenti. Setelah mengambil napas dan memulihkan tenaga, mereka kembali menghadapi lahan yang terbakar. Perjuangan itu berlangsung demi satu tujuan, menghentikan api.
Karhutla tidak hanya mengubah warna permukaan tanah. Asap yang dihasilkan juga dapat menutupi langit. Di Selimau 3, perjuangan petugas berlangsung di tengah kondisi lahan yang telah terbakar. Mereka menyiram area yang terbakar dan menangani titik-titik api yang masih tersisa.
Langit yang sempat tertutup kabut asap menjadi pengingat mengenai pentingnya pekerjaan mereka. Ketika api berhasil dikendalikan dan asap perlahan berkurang, harapan untuk melihat kembali langit Kalimantan Utara yang biru pun ikut tumbuh.
(1).jpeg)
Penanganan karhutla. Foto: dok. BNPB.
Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah cuaca panas ekstrem.
"Pemprov Kaltara mengimbau seluruh masyarakat, kelompok tani, hingga pelaku usaha untuk bersama-sama mencegah karhutla, terutama selama kondisi cuaca ekstrem berlangsung," ujar Kepala Dishut Kaltara, Nur Laila, di Tanjung Selor, Jumat, 14 Agustus 2026, melansir Antara.
Laila mengatakan bahwa kondisi vegetasi hutan dan lahan yang semakin kering membuat potensi karhutla di Kaltara meningkat. Percikan api kecil pun, kata dia, dapat dengan cepat membesar dan menyebar.
"Cuaca saat ini sangat panas dan kering sehingga kerawanan karhutla sangat tinggi. Jangan biarkan api kecil menjadi bencana besar," jelas dia.
Dia menerangkan, karhutla tidak hanya mengancam kelestarian hutan dan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesehatan serta keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, Dishut Kaltara meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan memprediksi Provinsi Kalimantan Utara mengalami musim kemarau hingga Oktober 2026.
“Untuk prediksi musimnya, kami prediksikan itu di Oktober masih kemarau. El Nino-nya juga masih aktif hingga akhir tahun,” ujar Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Agus Ariyanto, melansir Antara, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut dia, hingga Oktober nanti ada beberapa daerah masih mengalami kekeringan yang cukup parah. Khusus untuk wilayah Kabupaten Bulungan, kata dia, cuacanya sangat panas dan bisa dikatakan ekstrem.
“Kalau untuk Bulungan cukup panas. Suhu rata-rata kalau sekarang di atas 34-35 derajat Celsius dan itu cukup ekstrem,” kata dia.