Jubir Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana. Foto: Metro TV/Siti Yona.
Densus 88 Sebut Penyebaran Paham Neo Nazi-White Supremacy Meningkat Pascacovid-19
Siti Yona Hukmana • 7 January 2026 17:32
Jakarta: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap penyebaran paham ideologi kekerasan ekstrem, seperti Neo Nazi dan White Supremacy meningkat pascapandemi Covid-19. Penyebaran paham dilakukan secara luas melalui media sosial, di berbagai negara.
"Memang terjadi lonjakan. Pascacovid-19 terjadi lonjakan angka yang luar biasa tajam. Ini terjadi di beberapa negara tidak hanya di Indonesia," kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.
Mayndra memaparkan sejumlah aksi kekerasan ekstrem yang dilakukan anak-anak akibat paham Neo Nazi dan White Supremacy yang terjadi di sepanjang 2025. Salah satunya dilakukan Anderson Solomon, 17 di Antioch High School pada 22 Januari 2025, yang disebut terpapar paham supremasi kulit putih dan membenci identitas rasnya sendiri.
Kemudian, Trinity Shopley, 18 yang berencana melakukan penembakan di sebuah sekolah di Indiana pada Februari 2025. Ada lagi pada Agustus 2025, seorang anak bernama Robin M. Westman, 23 melakukan penembakan di gereja Katolik saat ibadah berlangsung karena obsesinya membunuh anak-anak.
Di Colorado, pelaku atas nama Desmond Holley, 16 melakukan penembakan di Evergreen High School pada September 2025 karena terpapar paham antisemitisme. Ada pula aksi teror yang dilakukan remaja asal Moscow, Rusia bernama Mario Nauval, 15 yang diduga terinspirasi ledakan bom di SMAN 72 Jakarta.
Mayndra menjelaskan penusukan yang terjadi di Odintsovo, Moscow, Rusia itu menyebabkan satu anak tewas dan seorang petugas keamanan mengalami luka. Mayndra mengatakan dugaan terinspirasi dengan ledakan SMAN 72 Jakarta didukung temuan tulisan 'Jakarta Bombing 2025' yang ditulis oleh pelaku pada gagang senjata miliknya.
“Di gagang senjata pelaku penusukan di Moscow, tertulis ‘Jakarta Bombing 2025’. Tulisan itu kemudian diambil gambarnya dan diunggah ke komunitas tertentu,” beber Mayndra.
Menurutnya, temuan ini menjadi bukti penyebaran paham atau ideologi kekerasan ekstrem terjadi secara lintas negara melalui ruang digital.
“Ini memperlihatkan bahwa aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi. Ada proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial,” pungkas Mayndra.