Ilustrasi. Foto: Freepik.
'Aksi' Trump soal Venezuela Bikin Harga Minyak Dunia Makin Jeblok
Husen Miftahudin • 8 January 2026 08:41
Houston: Harga minyak dunia turun pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi kepada AS.
Mengutip Yahoo Finance, Kamis, 8 Januari 2026, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,8 persen menjadi USD60,23 per barel. Sementara West Texas Intermediate turun satu persen menjadi USD56,52.
Presiden AS mengatakan minyak Venezuela akan dijual dengan harga pasar. Dengan begitu, maka volume minyak mentah Venezuela yang diserahkan kepada Trump bernilai sekitar USD1,9 miliar, pada level Brent saat ini.
"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 dan 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang telah mendapat sanksi, kepada Amerika Serikat," tulis Trump.
"Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!" lanjut dia.
| Baca juga: AS Pegang Kendali Penjualan Minyak Venezuela |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
AS imperialistik atas Venezuela
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah muncul sebagai pembeli minyak mentah Venezuela terbesar, membeli minyak dengan harga jauh di bawah harga pasar karena pemerintah Nicolás Maduro berupaya menjaga perekonomian tetap berjalan di tengah sanksi internasional.
"Ini adalah (penyerahan 50 juta barel minyak Venezuela ke AS) tindakan perampasan, imperialistik, dan tidak ada pembenaran untuk itu," kata Jeffrey Sonnenfeld, seorang profesor di sekolah bisnis Yale.
Para pejabat AS belum menetapkan kerangka hukum yang memungkinkan penyitaan minyak Venezuela. Pemerintahan Trump sebelumnya menuduh kapal tanker Venezuela melanggar sanksi AS dengan mengangkut minyak mentah Iran dan Venezuela.
Jim Reid, seorang analis di Deutsche Bank, mengatakan pengumuman tersebut kurang detail dan mungkin tidak menandakan perubahan yang berkelanjutan.
"Tidak banyak detail tambahan, tetapi volume seperti ini sekitar 30 hingga 50 hari produksi sebelum blokade AS, jadi ini bisa jadi minyak yang telah tersimpan dan mungkin tidak menandai awal dari sebuah tren," jelas dia.