Australia dan Jepang resmi menandatangani kontrak pengadaan armada kapal perang senilai AUD10 miliar atau sekitar Rp110 triliun. (Anadolu Agency)
Australia dan Jepang Sepakati Proyek Kapal Perang Senilai Rp110 Triliun
Dimas Chairullah • 19 April 2026 08:58
Melbourne: Australia dan Jepang resmi menandatangani kontrak pengadaan armada kapal perang senilai AUD10 miliar (sekitar Rp110 triliun) pada Sabtu, 18 April 2026.
Dilansir dari TRT World, kesepakatan bersejarah ini menandai ekspor militer terbesar yang pernah dilakukan Tokyo sejak mencabut larangan ekspor pertahanan pada 2014.
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menandatangani nota kesepahaman (MoU) tersebut di Melbourne. Penandatanganan ini menegaskan komitmen kedua negara dalam menghadirkan armada kapal fregat canggih.
Berdasarkan kesepakatan, perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries akan membangun tiga kapal fregat multi-peran kelas Mogami yang telah ditingkatkan. Pembangunan untuk Angkatan Laut Kerajaan Australia ini dijadwalkan dimulai di Jepang pada 2029.
Selanjutnya, delapan kapal tambahan akan dibangun di fasilitas perkapalan Henderson, dekat Perth, Australia Barat. Skema ini menjadikan proyek tersebut tidak hanya bernilai strategis dari sisi pertahanan, tetapi juga sebagai investasi industri berskala besar bagi Australia.
Armada kapal ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi vital, termasuk peperangan antikapal selam, pertahanan udara, serta operasi tempur di permukaan laut.
Kapal-kapal tersebut diharapkan mampu memainkan peran kunci dalam melindungi wilayah utara Australia serta mengamankan jalur perdagangan maritim strategis di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik.
Kesepakatan ini juga mencerminkan pergeseran signifikan dalam kebijakan pertahanan Jepang yang sebelumnya cenderung pasif sejak Perang Dunia II. Dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo mulai lebih aktif membangun kemitraan keamanan di luar aliansi utamanya dengan Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap dinamika keamanan regional, khususnya meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik.
Baca juga: Jepang-Australia Perkuat Kemitraan Pertahanan, Bahas Insiden Radar Tiongkok