PBB Desak AS dan Rusia Buat Perjanjian Nuklir Baru usai Berakhirnya New START

Sekjen PBB Antonio Guterres. (Anadolu Agency)

PBB Desak AS dan Rusia Buat Perjanjian Nuklir Baru usai Berakhirnya New START

Willy Haryono • 8 February 2026 12:14

New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat dan Rusia untuk segera menandatangani perjanjian baru pengendalian senjata nuklir, menyusul berakhirnya perjanjian New START.

Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai “momen genting bagi perdamaian dan keamanan internasional."

Perjanjian nuklir New START telah berakhir pada Kamis lalu. Berakhirnya perjanjian tersebut secara resmi membebaskan Moskow dan Washington dari berbagai pembatasan atas persenjataan nuklir mereka, sekaligus memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata global.

“Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terhadap persenjataan nuklir strategis milik … dua negara yang menguasai mayoritas besar stok senjata nuklir global,” kata Guterres, dikutip dari laman Guardian, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ia menilai New START dan perjanjian pengendalian senjata lainnya telah “secara drastis meningkatkan keamanan seluruh umat manusia."

“Pembubaran capaian puluhan tahun ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk—risiko penggunaan senjata nuklir kini berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa dekade,” ujarnya, merujuk pada pernyataan Rusia yang sempat menyiratkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis pada fase awal perang di Ukraina.

Rusia dan Amerika Serikat menguasai lebih dari 80 persen hulu ledak nuklir dunia. Guterres mendesak Washington dan Moskow “untuk segera kembali ke meja perundingan tanpa penundaan dan menyepakati kerangka pengganti” bagi New START.

Berakhirnya perjanjian ini dipandang sebagai lonceng kematian bagi lebih dari lima dekade rezim pengendalian senjata, di tengah meningkatnya ketidakstabilan global.

Situasi tersebut juga berpotensi mengancam Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) tahun 1970, yang akan memasuki siklus peninjauan tahun ini, di mana negara-negara tanpa senjata nuklir berjanji tidak mengembangkannya, dengan syarat negara pemilik senjata nuklir melakukan upaya perlucutan senjata secara itikad baik.

Baca juga:  Rusia Peringatkan Akan Bertindak Jika AS Lanjutkan Uji Coba Nuklir

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)