Iran Sebut Perundingan dengan AS Tetap Berjalan di Tengah Ancaman Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Iran Sebut Perundingan dengan AS Tetap Berjalan di Tengah Ancaman Trump

Fajar Nugraha • 5 February 2026 09:15

Washington: Otoritas Iran, mengatakan pada Rabu, 4 Februari, bahwa perundingan dengan Amerika Serikat (AS) akan tetap berlangsung sesuai jadwal pada akhir pekan ini. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan Presiden Donald Trump yang memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk merasa sangat khawatir.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi di X, bahwa perundingan nuklir tersebut dijadwalkan pada hari Jumat di Muscat, Oman. Sebelumnya, para diplomat sempat menyebutkan bahwa pertemuan akan digelar di Turki, namun Araghchi memastikan Oman telah melakukan seluruh pengaturan yang diperlukan.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS mengenai jadwal pertemuan tersebut, Presiden Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump menyebut Iran sedang bernegosiasi dengan AS dan memperingatkan adanya konsekuensi buruk jika Iran berani membangun fasilitas nuklir baru.

"Mereka sempat berpikir untuk membangun situs baru di bagian lain negara tersebut. Kami mengetahuinya, dan saya katakan, jika kalian melakukan itu, kami akan melakukan hal-hal yang sangat buruk kepada kalian," tegas Trump, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis, 5 Februari 2026.

Peringatan ini menyusul serangan AS sebelumnya terhadap situs nuklir Iran selama perang bulan Juni antara Israel dan Iran.

Situasi diplomatik ini masih dibayangi ketidakpastian dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan kesiapan Washington untuk bertemu dengan Iran, namun menekankan bahwa pembahasan harus mencakup program rudal dan nuklir Teheran. AS mengatakan siap bertemu jika Iran bersedia, namun tidak mempermasalahkan jika Teheran berubah pikiran.

Utusan AS, Steve Witkoff, sebelumnya bersiap bertemu di Turki sebelum muncul laporan yang saling bertentangan mengenai kesepakatan lokasi. Dalam perundingan sebelumnya, Iran menolak membahas program rudalnya karena dianggap sebagai alat pertahanan diri yang sah.

Hubungan kedua negara semakin tegang setelah penindasan keras terhadap protes besar di Iran serta melemahnya sekutu regional Teheran, seperti Hizbullah di Lebanon dan jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.

Selain jalur diplomasi, AS juga telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengirimkan kelompok kapal induk, yang salah satu pesawatnya baru saja menembak jatuh drone Iran.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)