Putra Khamenei Dikabarkan Jadi Calon Terkuat Pemimpin Iran yang Baru

Mojtaba Khamenei. (Morteza Nikoubazl/NurPhoto via CNN)

Putra Khamenei Dikabarkan Jadi Calon Terkuat Pemimpin Iran yang Baru

Riza Aslam Khaeron • 4 March 2026 09:27

Teheran: Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran yang tewas Ayatollah Ali Khamenei, muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin baru Iran, demikian menurut tiga pejabat Iran yang mengetahui proses musyawarah Majelis Ahli.

Mengutip New York Times (NYT), para pejabat tersebut mengatakan bahwa para ulama sedang mempertimbangkan untuk mengumumkan putra almarhum pemimpin sebagai penerus ayahnya pada Rabu pagi, 4 Maret 2026, meskipun beberapa pihak menyatakan keberatan karena khawatir hal itu dapat mengeksposnya sebagai target Amerika Serikat dan Israel. Mereka berbicara dengan syarat anonim untuk membahas musyawarah internal yang sensitif.

Para ulama yang dikenal sebagai Majelis Ahli mengadakan dua pertemuan virtual pada Selasa (3/3/2026), satu di pagi hari dan satu di malam hari, menurut para pejabat tersebut.

Israel sebelumnya menyerang sebuah gedung di Qom, salah satu pusat kekuasaan utama Syiah, tempat majelis dijadwalkan bertemu dan memilih pemimpin tertinggi baru, namun gedung itu kosong, menurut kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Vali Nasr, pakar Iran dan Islam Syiah di Johns Hopkins University, mengatakan bahwa Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang mengejutkan dan berpotensi menjadi sinyal penting. 

"Ia sudah diproyeksikan menjadi penerus sejak lama," kata Nasr.

"Namun selama dua tahun terakhir, namanya seolah menghilang dari radar. Jika ia terpilih, ini menunjukkan bahwa faksi Garda Revolusi yang jauh lebih garis keras kini memegang kendali rezim," sebutnya.

Mojtaba Khamenei, 56 tahun, adalah figur berpengaruh meskipun tertutup yang selama ini beroperasi di balik bayang-bayang kekuasaan ayahnya. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi.

Menurut tiga pejabat yang dikutip NYT, Garda Revolusi mendorong pengangkatannya dengan alasan bahwa ia memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk memimpin Iran di saat krisis.
 

Baca Juga:
5 Kandidat Pengganti Khamenei Sebagai Pemimpin Iran

"Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena ia sangat mengenal cara menjalankan serta mengoordinasikan aparatur keamanan dan militer," kata Mehdi Rahmati, seorang analis di Teheran.

"Dia sudah memegang kendali atas hal ini sebelumnya," tambahnya.

Rahmati mengatakan bahwa tidak semua pihak akan puas dengan keputusan ini. "Sebagian masyarakat akan bereaksi negatif dan keras terhadap keputusan ini, dan hal itu akan menimbulkan serangan balik," prediksinya.

Pendukung pemerintah akan melihatnya sebagai kelanjutan dari pemimpin yang mereka anggap syahid dan akan segera mendukungnya, kata Rahmati. Namun penentang pemerintah juga akan melihatnya sebagai kelanjutan dari rezim.

Kandidat lain yang muncul sebagai finalis adalah Alireza Arafi, seorang ulama dan ahli hukum yang menjadi bagian dari dewan transisi kepemimpinan tiga orang yang ditunjuk setelah Ayatollah Khamenei terbunuh, dan Seyed Hassan Khomeini, cucu dari pendiri revolusi Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Baik Arafi maupun Khomeini dipandang sebagai kalangan moderat, dengan Khomeini yang dekat dengan faksi politik reformis yang tersingkir di Iran.

Abdolreza Davari, seorang politikus yang dekat dengan Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan publik dan wawancara dengan NYT mengatakan bahwa jika Khamenei menggantikan ayahnya, ia bisa muncul sebagai figur bergaya pemimpin Arab Saudi Mohammed bin Salman.

"Dia sangat progresif dan akan bergerak untuk menyisihkan kelompok garis keras," kata Davari dalam pesan teks sebelum perang. "Lihatlah penunjukannya sebagai proses pergantian kulit."

Sebelumnya pada Selasa, dalam konferensi pers di Washington, Presiden Trump mengatakan bahwa banyak orang yang dipandang pemerintahnya sebagai calon pemimpin Iran telah tewas sejak Sabtu lalu.

"Sesaat lagi kita tidak akan mengenali siapa pun," katanya. Ditanya tentang skenario terburuk di Iran, ia mengatakan: "Saya rasa skenario terburuknya adalah kita melakukan ini dan seseorang yang mengambil alih ternyata sama buruknya dengan orang sebelumnya. Benar, itu bisa saja terjadi. Kita tidak ingin hal itu terjadi."

Majelis Ahli terdiri dari 88 ulama Syiah senior yang dipilih dalam pemilihan umum dan berdasarkan Konstitusi Iran bertanggung jawab untuk menunjuk, mengawasi, dan memberhentikan pemimpin tertinggi. Ini adalah pemimpin tertinggi kedua yang akan dipilih majelis dalam sejarah 47 tahun Republik Islam.

Istri Mojtaba Khamenei, Zahra Adel; ibunya, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh; dan seorang putra tewas bersama ayahnya dalam serangan Sabtu lalu, demikian pernyataan pemerintah Iran.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)