Ilustrasi. Foto: dok Istimewa.
Biaya Logistik Global Makin Mahal Gegara Konflik di Selat Hormuz
Husen Miftahudin • 3 March 2026 21:35
Jakarta: Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, telah menimbulkan risiko serius terhadap operasional transportasi laut dan udara serta stabilitas rantai pasok global.
Kawasan ini merupakan jalur vital perdagangan energi untuk 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia dan konektivitas jalur kontainer antara kawasan Timur dan Barat, sehingga setiap eskalasi berpotensi memicu dampak sistemik terhadap biaya logistik dunia.
Senior Vice President Federation of International Freight Forwarders Associations (FIATA) Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan situasi ini bersifat dinamis dan sangat fluktuatif, sehingga dapat memengaruhi perubahan operasional pada jadwal pelayaran, kapasitas angkut, dan biaya logistik global.
"Gangguan navigasi, pengalihan rute kapal dan pesawat, serta lonjakan premi asuransi berpotensi menciptakan tekanan biaya logistik global dalam waktu singkat," ungkap Yukki dalam siaran pers, Selasa, 3 Maret 2026.
Yukki menegaskan terdapat tiga dampak langsung terhadap gangguan transportasi logistik dan rantai pasok global. Pertama, terkait dengan Transportasi Laut. Risiko keamanan yang meningkat mendorong sejumlah kapal mengubah rute, menghentikan pelayaran, bahkan berbalik arah.
Potensi penutupan jalur strategis dapat memicu gangguan besar pada jaringan pelayaran internasional, termasuk kemacetan di pelabuhan alternatif akibat pengalihan arus kapal serta kenaikan war-risk premium dan surcharge operasional.
| Baca juga: Selat Hormuz Ditutup, Bahlil Atur Ulang Strategi Impor Minyak Mentah dan Elpiji |

(Senior Vice President FIATA Yukki Nugrahawan Hanafi. Foto: dok Istimewa)
Konflik jadi 'shock' besar dalam rantai pasok global
Kedua, terkait transportasi udara. Pembatasan dan pengalihan jalur udara menyebabkan waktu transit lebih panjang dan konsumsi bahan bakar meningkat, dengan implikasi pada keterbatasan kapasitas dan potensi kenaikan tarif kargo udara.
Ketiga, terkait rantai pasok global. Gangguan distribusi energi, petrokimia, dan industri manufaktur berpotensi memicu kenaikan freight cost global, ketidakpastian kontraktual, serta risiko keterlambatan pengiriman yang berdampak pada sektor ritel dan pangan.
"Konflik ini berpotensi menjadi shock besar dalam rantai pasok global dengan dampak lanjutan terhadap inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berbagai negara," jelas Yukki.
Lebih lanjut, Yukki menilai pelaku usaha dunia dan nasional perlu waspada dan segera beradaptasi terhadap risiko serius pada stabilitas transportasi laut dan udara global.
"Untuk itu, FIATA sebagai organisasi jasa pengangkutan logistik global melihat para pelaku usaha di sektor ini perlu melakukan penguatan manajemen risiko, termasuk meningkatkan kewaspadaan operasional, memastikan perlindungan dan negosiasi premi asuransi serta kejelasan kontrak, memperkuat komunikasi dengan pelanggan, melakukan koordinasi internasional, serta menyiapkan alternatif rute dan solusi multimoda. Hal ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi global," tutup Yukki.