BMKG Prediksi Riau Lebih Kering pada 2026, Risiko Karhutla Meningkat

Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)

BMKG Prediksi Riau Lebih Kering pada 2026, Risiko Karhutla Meningkat

Lukman Diah Sari • 6 March 2026 01:32

Pekanbaru: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca di Provinsi Riau pada 2026 akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan fenomena La Nina lemah yang membuat kondisi cuaca relatif lebih basah. Namun pada 2026 kondisi iklim diperkirakan berbeda karena fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral.

“Tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan La Nina lemah sehingga kondisinya lebih basah. Sementara pada 2026, memasuki April kondisi ENSO diperkirakan netral, sehingga diperkirakan akan lebih kering dibandingkan 2025,” kata Faisal dalam konferensi pers di Pekanbaru, Kamis, 5 Maret 2026, melansir Antara.

Ia menjelaskan, berdasarkan catatan iklim selama 30 tahun terakhir, curah hujan pada 2026 diperkirakan sedikit berada di bawah kondisi normal. Wilayah di sekitar garis khatulistiwa seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini juga tengah memasuki periode yang disebut “kemarau kecil”.

Pada fase tersebut masih terjadi hujan sesaat sebelum memasuki puncak musim kemarau. “Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus,” ujar Faisal.

Faisal menilai upaya membasahi lahan sejak dini penting dilakukan untuk menekan potensi kebakaran saat puncak musim kemarau. Saat ini BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca guna mendatangkan hujan di wilayah yang diprediksi rawan karhutla.

“Ketika masih memungkinkan dilakukan penyemaian awan, kita upayakan mendatangkan hujan untuk membasahi lahan agar lebih jenuh sebelum memasuki puncak musim kemarau,” kaat dia.


Ilustrasi karhutla. Dokumentasi/ BPBD Aceh Selatan

Ia menambahkan BMKG juga terus memantau kemungkinan perkembangan fenomena El Nino pada tahun-tahun mendatang. Jika fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan angin monsun Australia yang kering, maka Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang.

BMKG, lanjutnya, akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, serta instansi penanggulangan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.

“BMKG siap mendukung semua pihak agar lebih siap dan sigap dalam menghadapi ancaman karhutla,” ujarnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)