Mengenal ‘Project Freedom’, Operasi AS untuk Buka Selat Hormuz yang Kini Ditunda

Kapal perang Amerika Serikat dikerahkan untuk kawal kapal yang tertunda akibat penutupan Selat Hormuz. Foto: Anadolu

Mengenal ‘Project Freedom’, Operasi AS untuk Buka Selat Hormuz yang Kini Ditunda

Muhammad Reyhansyah • 7 May 2026 07:27

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan jeda sementara terhadap inisiatif baru Washington yang diluncurkan untuk membantu memandu kapal-kapal yang tertahan akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Trump menyebut inisiatif bernama "Project Freedom" itu sebagai langkah kemanusiaan yang "dimaksudkan untuk membebaskan orang-orang, perusahaan, dan negara-negara yang sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun." 

Sementara itu, Iran menegaskan kapal hanya dapat melintasi jalur perairan vital tersebut dengan otorisasi dari Teheran.

Inisiatif tersebut diumumkan Trump pada Minggu lalu. Sejak saat itu, militer Iran mengatakan telah menembaki kapal perang AS untuk mencegah mereka bernavigasi di jalur tersebut, sementara AS mengaku telah menenggelamkan kapal-kapal kecil, situasi yang mengancam gencatan senjata yang sebelumnya dimaksudkan mengakhiri perang.

Namun pada Selasa, hanya dua hari setelah diumumkan, Trump menyatakan operasi itu akan dijeda "untuk waktu singkat" guna melihat apakah AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan.

Bagaimana Project Freedom Dijalankan

Mengutip BBC, Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari, yang dibalas Teheran dengan memblokade jalur strategis tempat sekitar 20 persen minyak dunia dan gas alam cair seharusnya melintas bebas.

AS menyebut ada 22.500 pelaut di atas 1.550 kapal komersial yang terjebak di kawasan Teluk. Kekhawatiran pun meningkat terhadap menipisnya pasokan logistik serta dampak fisik dan mental yang dialami para awak kapal.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan kapal perusak berpemandu rudal, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta 15.000 personel dikerahkan untuk mendukung operasi tersebut.

Dalam pengarahan pada hari pertama operasi, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan kapal dari 87 negara tertahan di Teluk dan Amerika Serikat telah menghubungi puluhan kapal serta perusahaan pelayaran untuk mendorong arus transit.

Belum jelas pada saat pengumuman apakah Washington akan memberikan pengawalan militer langsung kepada kapal-kapal yang tertahan.

Namun perusahaan pelayaran Maersk mengonfirmasi salah satu kapalnya berhasil keluar dari Teluk dengan didampingi militer Amerika Serikat.

Bentrokan di Hormuz Selama Operasi Berlangsung

Beberapa jam setelah operasi dimulai pada Senin, militer Iran mengatakan pihaknya melepaskan tembakan ke "kapal perusak musuh Amerika dan Zionis Israel" yang disebut telah mengabaikan peringatan.

CENTCOM kemudian membantah klaim Iran bahwa kapal perang Amerika terkena dua rudal, tetapi mengonfirmasi Iran memang menembakkan rudal jelajah ke kapal perang AS dan kapal komersial berbendera Amerika. Drone dan kapal kecil juga disebut digunakan untuk menyerang kapal komersial.

Uni Emirat Arab mengatakan sebuah tanker yang berafiliasi dengan perusahaan minyak negara Adnoc menjadi sasaran dua drone saat melintasi Selat Hormuz.

Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, namun sedikitnya tiga pencegatan rudal juga dilaporkan terjadi. Sebuah serangan yang diduga menghantam kapal kargo Korea Selatan yang sedang berlabuh di selat dekat wilayah Emirat juga dilaporkan.

Komandan CENTCOM Brad Cooper mengatakan sebagian helikopter serang Amerika Serikat yang mendukung misi digunakan untuk menenggelamkan enam kapal kecil Iran yang menargetkan kapal sipil, meski klaim ini dibantah Teheran.

Iran tetap bersikeras akan mengambil "tindakan tegas" terhadap kapal yang tidak menggunakan jalur pelayaran yang disetujui rezim di selat tersebut.

Negosiator utama Iran juga menuduh Amerika Serikat justru membahayakan keamanan pelayaran dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump kemudian mengatakan pada Selasa bahwa Amerika Serikat menjeda operasi baru itu atas permintaan Pakistan, yang menjadi perantara negosiasi antara Washington dan Teheran bersama beberapa negara lain.

Apakah Perang dengan Iran Akan Dimulai Lagi

Saat mengumumkan penundaan Project Freedom di media sosial pada Selasa, Trump mengatakan telah ada "kemajuan besar" menuju "kesepakatan lengkap dan final" dengan Iran.

Meski demikian, ia menegaskan Selat Hormuz tetap akan berada dalam blokade selama masa jeda. Media pemerintah Iran menyebut penundaan tersebut menunjukkan Trump "mundur" setelah "kegagalan berkelanjutan" dalam upayanya membuka kembali jalur pelayaran penting dunia itu.

Sejumlah analis menilai rencana mengamankan pelayaran di Teluk akan sangat sulit dijalankan. Mereka menyebut operasi semacam itu kemungkinan memerlukan opsi militer yang lebih kuat dan lebih agresif apabila benar-benar ingin memastikan kapal bisa melintas.

Konsensus umum, menurut para pengamat, adalah dimulainya kembali permusuhan hanya tinggal soal waktu. Pakar lain menilai operasi Amerika Serikat sangat berisiko dan sangat berpotensi meningkatkan eskalasi.

Mereka menambahkan bahwa sekalipun Project Freedom berhasil mengeluarkan sebagian kapal dari selat, hasilnya hanya akan menjadi kelegaan sementara karena dibutuhkan upaya jauh lebih berkelanjutan untuk benar-benar membuka jalur tersebut.

Dalam pengarahan pada Selasa, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan gencatan senjata belum berakhir.

"Ini adalah proyek yang terpisah dan berbeda," katanya.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine menambahkan meski Iran telah sembilan kali menembaki kapal komersial, menyita dua kapal kontainer, dan menyerang pasukan Amerika Serikat 10 kali sejak gencatan senjata 8 April, tindakan tersebut masih berada di bawah ambang dimulainya kembali operasi tempur besar untuk saat ini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)