Foto dampak gempa bumi Flores 1992. (Dok. BNPB)
Mirip Tahun 1992, Simak Penyebab dan Fokus Penanganan Gempa Flores 2026
Muhamad Marup • 16 August 2026 22:01
Jakarta: Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu 15 Agustus 2026. Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, sekaligus ahli gempa dan kadaster, Irwan Meilano, mengatakan Gempa Flores tersebut memiliki kemiripan dengan Gempa Flores pada tahun 1992.
Ia mengatakan, dari sisi lokasi, jarak kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer. Dari sisi guncangan juga terpaut sedikit dari gempa pada tahun 1992.
“Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujar Irwan, mengutip laman resmi ITB, Minggu, 16 Agustus 2026.
Irwan menerangkan, pada tahun 1992 terjadi tsunami karena longsoran bawah laut yang setelah gempa. Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi.
"Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami tahun 1992,” jelasnya.
Ia mengatakan, dari sisi lokasi, jarak kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer. Dari sisi guncangan juga terpaut sedikit dari gempa pada tahun 1992.
“Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi,” ujar Irwan, mengutip laman resmi ITB, Minggu, 16 Agustus 2026.
Irwan menerangkan, pada tahun 1992 terjadi tsunami karena longsoran bawah laut yang setelah gempa. Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi.
"Mudah-mudahan dalam gempa ini, walaupun magnitudonya mirip, tidak diikuti dengan longsoran bawah laut sehingga tsunaminya tidak setinggi tsunami tahun 1992,” jelasnya.
Gempa Dangkal Berpotensi Memperkuat Guncangan
Irwan menerangkan, potensi kerusakan akibat gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudo. Menurutnya, kedalaman sumber gempa dan jaraknya dari kawasan permukiman sebagai faktor penting lainnya.
"Dengan magnitudo 7,7 tentu saja berpotensi untuk mengakibatkan efek kerusakan," katanya.
Menurutnya, kombinasi magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman dapat meningkatkan potensi guncangan yang merusak.
"Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan pemukiman,” terangnya.
Proses evakuasi pascagempa NTT. Foto: dok. BNPB.
Gempa Flores 15 Agustus 2026 memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 10–15 kilometer berdasarkan sejumlah sumber, sehingga tergolong relatif dangkal. Hasil pemutakhiran BMKG juga menunjukkan gempa tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust."Dengan magnitudo 7,7 tentu saja berpotensi untuk mengakibatkan efek kerusakan," katanya.
Menurutnya, kombinasi magnitudo yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, serta lokasi yang berdekatan dengan kawasan permukiman dapat meningkatkan potensi guncangan yang merusak.
"Dengan dua kombinasi ini dan ada kombinasi yang ketiga, yaitu lokasinya dekat dengan pemukiman,” terangnya.
Kondisi Tanah dan Kualitas Bangunan Turut Menentukan
Selain karakteristik gempa, kondisi lingkungan dan infrastruktur di wilayah terdampak turut menentukan tingkat kerusakan. Salah satunya adalah kondisi tanah yang dapat memperkuat guncangan melalui proses amplifikasi.
"Nanti sebenarnya ada faktor yang keempat yaitu faktor amplifikasi tanah di dekat pemukiman. Ada faktor yang lain yaitu kualitas dari infrastruktur dari pemukiman," tuturnya.
Dengan demikian, dampak gempa pada setiap wilayah dapat berbeda. Magnitudo dan kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa ke pemukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai potensi kerusakan.
"Rentetan dari kemungkinan-kemungkinan ini kemudian yang menghasilkan tingkat kerusakan," ucapnya.
"Nanti sebenarnya ada faktor yang keempat yaitu faktor amplifikasi tanah di dekat pemukiman. Ada faktor yang lain yaitu kualitas dari infrastruktur dari pemukiman," tuturnya.
Dengan demikian, dampak gempa pada setiap wilayah dapat berbeda. Magnitudo dan kedalaman gempa, jarak dari sumber gempa ke pemukiman, kondisi tanah, serta kualitas bangunan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai potensi kerusakan.
"Rentetan dari kemungkinan-kemungkinan ini kemudian yang menghasilkan tingkat kerusakan," ucapnya.
Sekolah dan Fasilitas Kesehatan Perlu Mendapat Perhatian
Irwan menilai, dengan melihat magnitudo, kedalaman, dan lokasi gempa terhadap kawasan perkotaan, sejumlah infrastruktur strategis perlu mendapat perhatian. Ia secara khusus menyoroti sekolah, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pemerintahan.
Infrastruktur tersebut memiliki peran penting. Tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dalam mendukung penanganan dan pemulihan setelah bencana.
"Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, selain juga fasilitas pemerintahan," lanjutnya. Ia berharap proses pemulihan terhadap infrastruktur strategis yang terdampak dapat dilakukan secara cepat. Dengan demikian, aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
"Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat," pungkasnya.
Infrastruktur tersebut memiliki peran penting. Tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dalam mendukung penanganan dan pemulihan setelah bencana.
"Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, selain juga fasilitas pemerintahan," lanjutnya. Ia berharap proses pemulihan terhadap infrastruktur strategis yang terdampak dapat dilakukan secara cepat. Dengan demikian, aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.
"Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat," pungkasnya.