Menyulap Ribuan Hektare Kawasan Hutan Jadi Sekolah Alam

Kawasan HCV sebagai sekolah alam. Foto: dok Wilmar.

Menyulap Ribuan Hektare Kawasan Hutan Jadi Sekolah Alam

Husen Miftahudin • 10 February 2026 11:51

Jakarta: Perusahaan grup agribisnis yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit, Wilmar Group, melalui PT Mentaya Sawit Mas dan PT Karunia Kencana Permai mengoperasikan dua kawasan High Conservation Value (HCV) seluas 5.211 hektare (ha) sebagai sekolah alam. Inisiatif ini bertujuan menumbuhkan kepedulian pelajar terhadap hutan dan kelestarian lingkungan.
 
Melalui program ini, Wilmar menyediakan berbagai fasilitas dan aktivitas edukatif di kawasan Eco Trail HCV, seperti pengenalan tumbuhan dan satwa liar dilindungi, edukasi nilai-nilai konservasi, serta kegiatan survival ringan seperti berjalan di sepanjang jungle track. Para siswa juga diajak mengimplementasikan pelajaran sekolah secara langsung di alam terbuka.
 
"Inisiatif ini bertujuan agar siswa mendapatkan pengalaman dan belajar langsung tentang alam," kata Manager HCV Wilmar Central Kalimantan Project Moch Dasrial melalui keterangan pers, Selasa, 10 Februari 2026.

Program edukasi ini mulai dijalankan sejak 2021. Selama 2023-2025, kegiatan ini telah diikuti oleh 1.380 siswa. Mulai 2024, perusahaan menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah untuk memperkaya kegiatan, dengan pendampingan langsung dari penyuluh BKSDA. Para siswa diperkenalkan lebih dalam pada fungsi kawasan konservasi, jenis-jenis flora dan fauna dilindungi, serta ancaman terhadap ekosistem hutan.
 
Dasrial menjelaskan, satwa yang diperkenalkan meliputi orangutan, buaya muara, rangkong, rusa sambar, dan berbagai satwa liar lainnya. mereka juga diajak memahami ancaman perburuan dan pembukaan lahan terhadap kelestarian habitat. "Sesi ini menjadi pembuka wawasan, khususnya bagi siswa SD yang baru pertama kali mengunjungi kawasan konservasi," jelas dia.
 
Usai pemaparan, peserta diajak menjelajahi jalur konservasi sekitar satu kilometer. Di sepanjang rute, petugas menjelaskan peran penting pohon-pohon lokal, jenis burung endemik, dan jejak satwa liar.
 

Baca juga: Pengelolaan Hutan Produksi Jaga Habitat Satwa Ikonik Papua di Tengah Perubahan Iklim


(Sekolah Alam di hutan konsevasi Wilmar Group. Foto: dok Wilmar)
 

Penanaman 100 bibit pohon

 
Puncak kegiatan adalah penanaman pohon sebagai simbol pembelajaran konservasi. Setiap kegiatan melibatkan sekitar 100 bibit pohon. Di antaranya, Balau merah (Shorea balangeran), durian (Durio zibethinus), gaharu tanduk (Aquilaria beccariana),  nangka monyet (Artocarpus rigidus), dan jambu-jambuan (Syzygium pendens).

"Sejak program ini dimulai, total 2.480 pohon telah ditanam bersama para siswa. Jenis Shorea balangeran termasuk kategori Critically Endangered (CR) menurut IUCN. Sementara jenis lain berfungsi sebagai pakan satwa liar di area HCV," papar Dasrial.
 
Dia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya menanamkan kecintaan terhadap lingkungan, tetapi juga menjadi sarana edukasi Environment, Health, and Safety (EHS) bagi siswa, khususnya dalam memahami pentingnya, keselamatan kerja dasar, dan perilaku hidup sehat.

Selain itu, kegiatan ini turut melatih karakter kepemimpinan, kolaborasi, dan kreativitas siswa. Suasana penuh semangat tampak saat para siswa bergotong royong menanam pohon bersama dengan menerapkan prinsip keselamatan dan kerja sama yang baik.
 
Program sekolah alam Wilmar menjadi pengalaman belajar yang berharga bagi anak-anak di usia dini. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga merasakan langsung bahwa alam adalah ruang belajar terbaik, tempat mereka belajar mengamati, bertanya, dan memahami kehidupan.

"Setiap bibit yang mereka tanam menjadi simbol harapan bagi masa depan tentang kesabaran, tanggung jawab, dan cinta terhadap bumi," ucap Dasrial.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)