Kelebihan Produksi Ayam, Indonesia Bidik Pasar Tiongkok hingga Timur Tengah

Ilustrasi peternakan ayam. Foto: dok MI/Taufan.

Kelebihan Produksi Ayam, Indonesia Bidik Pasar Tiongkok hingga Timur Tengah

Husen Miftahudin • 18 July 2026 14:52

Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang ekspor produk unggas ke Tiongkok dan kawasan Timur Tengah sebagai upaya memperluas pasar, menyerap kelebihan produksi dalam negeri, serta meningkatkan kesejahteraan peternak.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan pembukaan pasar ekspor dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan pangan di sejumlah negara.

"Kementerian Pertanian tengah membuka peluang ekspor produk unggas ke berbagai negara, termasuk Tiongkok dan kawasan Timur Tengah, seiring meningkatnya kebutuhan pangan di pasar internasional," kata Sudaryono dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurut dia, perluasan akses pasar menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan sekaligus meningkatkan daya saing industri perunggasan nasional.

Sudaryono menjelaskan keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas dan daya saing produk, tetapi juga memerlukan dukungan hubungan diplomatik antarnegara. "Ekspor bukan hanya soal harga dan kualitas produk. Ada proses diplomasi antarnegara yang harus dibangun," tutur Sudaryono.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat hubungan bilateral agar semakin banyak negara membuka akses bagi produk pertanian Indonesia.
 

 

Kelebihan pasokan jadi tantangan distribusi


Sudaryono mengungkapkan industri perunggasan nasional saat ini mengalami kelebihan pasokan dibandingkan permintaan. Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas produksi dalam negeri berada pada level yang baik.

"Ini sebenarnya good problem. Barangnya tersedia. Tinggal bagaimana kita mengelola supply, demand, distribusi, serta memastikan pasokan tersebar merata ke seluruh wilayah," kata Sudaryono.

Ia menyebut kelebihan pasokan terutama terjadi di Pulau Jawa. Karena itu, pemerintah terus mengoptimalkan distribusi ke daerah-daerah yang masih membutuhkan agar keseimbangan pasar dapat terjaga.

Selain memperluas pasar ekspor, Kementan juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menyerap komoditas ayam dan telur ketika harga di tingkat peternak mengalami penurunan.


(Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Foto: dok Pribadi)
 

Pecut ekspor produk unggas


Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas dan turunannya senilai Rp18,2 miliar pada Maret 2026. Produk tersebut diekspor ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste sebagai bagian dari upaya memperluas pasar komoditas pangan strategis setelah Indonesia mencapai swasembada.

Sementara itu, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan harga ayam broiler di tingkat peternak mulai menunjukkan tren peningkatan.

Berdasarkan data per 14 Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler nasional mencapai Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup, naik 4,11 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di Rp20.878 per kg.

Meski demikian, harga ayam broiler di Sumatera Selatan masih tercatat Rp18.125 per kg, sedangkan di Riau mencapai Rp25.600 per kg, atau melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen sebesar Rp25.000 per kg.

Untuk telur ayam ras, rata-rata harga nasional per 14 Juli 2026 berada di Rp22.644 per kg, meningkat 0,66 persen dibandingkan sepekan sebelumnya yang tercatat Rp22.495 per kg. Harga telur terendah tercatat di Banten sebesar Rp20.300 per kg, sedangkan tertinggi berada di Sulawesi Utara mencapai Rp28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp26.500 per kg.

(Husen Miftahudin)